Generasi Muda Diminta Kritis Hadapi Hoaks di Media Sosial
- 12 Agt 2026 17:49 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Andina Thresia Narang mendorong generasi muda meningkatkan kecakapan bermedia digital agar mampu menghadapi derasnya arus informasi, terutama penyebaran hoaks di media sosial. Andina mengatakan kemampuan menggunakan teknologi tidak cukup hanya sebatas mengoperasikan perangkat dan aplikasi.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memahami etika digital, menjaga keamanan data pribadi, serta menggunakan media sosial secara produktif dan bertanggung jawab. “Generasi muda harus membiasakan diri berpikir sebelum membagikan informasi,” ujar Andina dalam kegiatan Sosialisasi Merajut Nusantara BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital bersama Komisi I DPR RI bertema “Generasi Muda Cakap Bermedia Digital” di Digi Studio, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Andina, media sosial telah menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda. Platform digital tidak hanya digunakan untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi sarana belajar, memperoleh informasi, membangun relasi, mengekspresikan gagasan, mengembangkan kreativitas, hingga membuka peluang ekonomi.
Namun, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan. Kecepatan sebuah informasi menyebar tidak selalu sejalan dengan kebenaran maupun kredibilitasnya.
Andina mengingatkan generasi muda agar tidak langsung mempercayai informasi hanya karena viral, memiliki banyak komentar, atau telah dibagikan banyak orang. Popularitas sebuah informasi, katanya, bukan ukuran bahwa informasi tersebut benar.
Sebelum mempercayai maupun membagikan informasi, pengguna perlu memeriksa sumber, mengetahui siapa yang menyampaikan, melihat bukti pendukung, serta memahami konteks informasi secara utuh. “Kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting agar generasi muda tidak mudah menjadi korban informasi yang menyesatkan sekaligus tidak ikut menyebarkannya,” katanya.
Andina menjelaskan informasi yang keliru dapat dikemas melalui gambar, video, angka, kutipan, maupun narasi tertentu sehingga terlihat meyakinkan. Karena itu, pengguna perlu mampu membedakan fakta, opini, interpretasi, dan klaim yang belum terbukti.
Ia juga menyoroti fenomena konten viral yang sering kali dipengaruhi oleh unsur emosional dan kontroversial. Menurutnya, konten yang memancing kemarahan, ketakutan, atau perdebatan dapat memperoleh interaksi tinggi, tetapi tidak otomatis memiliki nilai informasi yang benar.
Selain persoalan hoaks, Andina menekankan pentingnya etika dalam berkomunikasi di ruang digital. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan penghinaan, serangan pribadi, perundungan, maupun tindakan yang merendahkan orang lain.
Kebebasan berekspresi, lanjutnya, harus berjalan bersama tanggung jawab. Pengguna media sosial perlu membiasakan diri menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta mempertimbangkan dampak dari setiap unggahan.
Andina juga mengingatkan generasi muda untuk menjaga privasi. Informasi pribadi yang terlihat sederhana dalam foto, video, dokumen, maupun unggahan dapat menjadi data yang berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Di sisi lain, Andina mendorong generasi muda tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga menjadi kreator dan penggerak perubahan. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagi pengetahuan, memperkenalkan karya, membangun komunitas, menyampaikan aspirasi, mendukung kegiatan sosial, hingga menciptakan peluang ekonomi.
“Media sosial jangan hanya digunakan untuk mengikuti tren. Manfaatkan untuk belajar, berkarya, membangun jaringan, mengembangkan usaha, dan menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat,” ujarnya.
Andina menegaskan pembangunan ruang digital yang sehat merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran dalam regulasi, pengawasan, dan penguatan literasi digital, sementara keluarga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, media, industri, dan pengguna media sosial juga memiliki peran masing-masing.
Sementara itu, Pegiat Literasi Muhammad Makmun Rasyid mengatakan generasi muda perlu memahami karakter ekosistem informasi digital yang semakin kompleks. Media sosial kini menjadi ruang untuk belajar, membangun identitas, memperluas jaringan, mengekspresikan gagasan, hingga menciptakan peluang ekonomi.
Makmun menyebut berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital yang dicantumkan dalam materi paparannya, terdapat 1.890 konten hoaks pada periode 20 Oktober 2024 hingga 6 Desember 2025. Menurutnya, persoalan hoaks bukan hanya mengenai benar atau salahnya informasi, tetapi juga dampaknya terhadap kepercayaan sosial.
Informasi palsu dapat memicu kecurigaan, memperlebar perbedaan, dan mendorong konflik di tengah masyarakat. Makmun juga menjelaskan konsep counterknowledge yang diperkenalkan Damian Thompson melalui buku Counterknowledge (2008).
Konsep tersebut menggambarkan informasi keliru atau tidak didukung bukti yang dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat seperti fakta. Ia turut mengangkat konsep outrage industry dari Jeffrey M. Berry dan Sarah Sobieraj dalam The Outrage Industry: Political Opinion Media and the New Incivility (2014), yang antara lain membahas bagaimana kemarahan, konflik, polarisasi, dan bahasa provokatif dapat menjadi bagian dari produksi perhatian di media.
Makmun juga mengaitkannya dengan gagasan Max Fisher dalam The Chaos Machine (2022), terutama mengenai bagaimana desain algoritma media sosial dapat mendorong konten dengan tingkat keterlibatan tinggi. Dalam kondisi tersebut, pengguna perlu semakin kritis karena konten yang memperoleh engagement tinggi atau menjadi viral belum tentu merupakan informasi yang benar dan dapat dipercaya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....