Qodari Nilai Elektrifikasi Dorong Aktivitas Ekonomi Masyarakat Perdesaan

  • 17 Sep 2026 05:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Program elektrifikasi memberikan dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat perdesaan melalui peningkatan durasi operasional usaha dan produktivitas.
  • Kehadiran listrik memfasilitasi berkembangnya usaha kecil dan mikro di desa seperti toko kelontong, rumah makan, dan koperasi.
  • Kepala Bakom RI Muhammad Qodari mengumumkan program ini saat Konferensi Pers Update Program Prioritas pada 16 September 2026 yang juga membahas percepatan penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

RRI.CO.ID, Jakarta – Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menilai program elektrifikasi tak hanya menghadirkan penerangan, namun mendorong aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan. Menurut Qodari, kehadiran listrik memungkinkan masyarakat menjalankan usaha lebih lama dan meningkatkan produktivitas kegiatan ekonomi.

“Dampak tersebut tercermin dari perkembangan kegiatan ekonomi desa. Antara lain, industri kecil dan mikro, seperti toko kelontong, rumah makan, koperasi, serta peningkatan aktivitas ketenagakerjaan,” kata Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI) tersebut saat Konferensi Pers Update Program Prioritas/PHTC serta Percepatan Penyediaan Hunian Layak dan Terjangkau bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Auditorium Bakom, Jakarta Pusat, Rabu, 16 September 2026.

Qodari menyatakan manfaat listrik tersebut mulai dirasakan masyarakat di berbagai pelosok Indonesia. Ia mencontohkan salah satunya terlihat dari perkembangan usaha warung kelontong di Desa Noemuke, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Sebelumnya mereka hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp300.000 per bulan dari warung kelontong masing-masing. Kini mereka memanfaatkan listrik untuk membuka usaha es batu dan minuman dingin dengan omset mencapai Rp1.000.000 per bulan,” ujarnya.

Ia menambahkan, dampak serupa juga dirasakan Kelompok Tani Kala Lili di Tomohon, Sulawesi Utara. “Setelah listrik tersedia untuk mendukung kebutuhan pencahayaan tanaman, omzet panen meningkat hingga Rp15 juta dari Rp5 juta per bulan,” kata Qodari.

Kelompok tani tersebut, lanjutnya, bahkan sempat menembus pasar ekspor hingga Singapura setelah produktivitas dan hasil pertanian mengalami peningkatan. Qodari menyebut kondisi tersebut menunjukkan listrik dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi baru masyarakat perdesaan.

“Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa listrik dapat menjadi pemicu aktivitas ekonomi baru di tingkat masyarakat. Ini menunjukkan bahwa elektrifikasi dapat memberikan manfaat yang jauh melampaui sekedar penerangan,” ucap Kepala Bakom itu.

Qodari menambahkan, dampak ekonomi program elektrifikasi ini akan semakin kuat apabila didukung berbagai infrastruktur penunjang. Dukungan tersebut meliputi akses pasar, jalan yang baik, lembaga keuangan, serta infrastruktur telekomunikasi.

Sebagai informasi, program elektrifikasi ini ditargetkan menjangkau 10.068 lokasi yang tersebar pada 36 provinsi di Indonesia. Sasaran tersebut mencakup sekitar 770 ribu rumah tangga, 8.561 desa, 2.295 kecamatan, serta 375 kabupaten atau kota.

Hingga Agustus 2026, elektrifikasi telah terealisasi pada 1.516 lokasi atau sekitar 15 persen dari keseluruhan target. Program tersebut didukung sepenuhnya oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp61,6 triliun.

Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap sesuai peta jalan listrik perdesaan periode 2025 hingga 2029. Kehadiran listrik diharapkan mendorong produktivitas sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....