Menteri Ekraf: Industri Aplikasi Jadi Masa Depan Ekonomi Digital
- 15 Sep 2026 02:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan aplikasi digital kini telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat
- Hal itu mulai dari bekerja, belajar, bertransaksi, menikmati hiburan hingga membangun usaha
RRI.CO.ID, Tangerang - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan aplikasi digital kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Aplikasi digunakan untuk bekerja, belajar, bertransaksi, menikmati hiburan hingga membangun usaha.
"Kita bekerja melalui aplikasi, belajar melalui aplikasi, bertransaksi dan menikmati hiburan. Bahkan, membangun usaha melalui aplikasi," ujar Teuku Riefky pada Indonesia Application Summit (InApps) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Senin 14 September 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan industri aplikasi tidak sekadar berkaitan dengan perkembangan teknologi. Industri aplikasi telah menjadi bagian penting dari masa depan ekonomi digital Indonesia.
"Karena itu, ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi. Sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia," kata dia.
Riefky menyatakan perkembangan kecerdasan buatan menghadirkan peluang semakin besar bagi industri aplikasi di Indonesia. Namun, kemajuan teknologi tersebut harus berjalan seiring dengan penerapan etika dan tata kelola yang baik.
Riefky mengaku Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kebijakan tersebut diterjemahkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045.
Rindekraf melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga dalam pelaksanaannya. Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat pengembangan ekonomi kreatif secara nasional serta mendukung pemerintah daerah.
"Di dalam Rindekraf ini ada 21 subsektor ekonomi kreatif," ucapnya.
"Ada yang berbasis kebudayaan, desain, teknologi digital dan media. Dari 21 subsektor ini, ada tujuh subsektor ekonomi kreatif yang menjadi prioritas, termasuk subsektor aplikasi," tambah Riefky.
Riefky menjelaskan jumlah subsektor ekonomi kreatif meningkat dari sebelumnya 17 menjadi 21 subsektor. Sejumlah subsektor baru berkaitan erat dengan perkembangan teknologi digital, antara lain teknologi baru, konten digital dan pengisi suara.
Menurut dia, subsektor teknologi baru mencakup berbagai kegiatan ekonomi kreatif yang memanfaatkan kecerdasan buatan. Teknologi tersebut mencakup rantai blok, internet untuk segala, teknologi Web3, data skala besar hingga keamanan siber.
"Ini kita jadikan subsektor tersendiri dan ada direktoratnya sendiri. Begitu juga dengan konten digital yang juga memiliki direktorat tersendiri," ujarnya.
Riefky mengatakan perkembangan sektor ekonomi kreatif tercermin dari besarnya investasi yang masuk. Pada 2025, nilai investasi sektor ekonomi kreatif mencapai sekitar Rp180 triliun.
Subsektor aplikasi menjadi salah satu penyumbang investasi terbesar, yakni sekitar Rp54,23 triliun. Sementara itu, kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto Indonesia mencapai sekitar 7,38 persen.
Dia juga menyoroti besarnya keterlibatan generasi muda dan perempuan dalam sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan data yang disampaikan, sekitar 63 persen tenaga kerja sektor tersebut berasal dari generasi Z dan milenial.
Sementara itu, 58 persen tenaga kerja sektor tersebut merupakan perempuan. "Jadi sektor ini sangat inklusif dan berkelanjutan," kata Riefky.
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, menolak Indonesia sekadar menjadi pasar produk digital. Ia mendorong pengembang aplikasi nasional agar mampu melahirkan aplikasi kelas dunia.
"Indonesia jangan hanya menjadi pasar aplikasi saja. Indonesia harus menjadi tempat lahirnya aplikasi kelas dunia," ujar Raffi dalam acara Indonesia Apps Summit 2026 di ICE BSD, Tangerang, Senin 14 September 2026.
Raffi juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, investor, komunitas dan generasi muda. Kolaborasi diperlukan untuk membangun ekosistem digital nasional.
Menurut dia, perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat membuat setiap pihak harus mampu beradaptasi dan bersinergi. Dia menegaskan tidak ada lagi pihak yang berjalan sendiri dalam menghadapi perubahan teknologi.
"Tidak ada yang namanya superman berdiri sendiri di zaman sekarang, tidak ada superman. Yang ada super team," kata dia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....