Pemerintah Siapkan Strategi Hadapi El Nino demi Swasembada Pangan
- 14 Sep 2026 19:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Petani Indonesia memperkuat kesiapan menghadapi El Nino melalui pengelolaan air dan penerapan pertanian modern untuk menjaga produksi pangan nasional.
- Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kementerian Pertanian Profesor Dedi Nursyamsi menyebutkan El Nino dan La Nina sebagai tantangan terbesar karena sulit diprediksi dan dapat memengaruhi produksi pangan.
- Perubahan iklim ekstrem menjadi tantangan utama yang memerlukan antisipasi melalui strategi pengelolaan sumber daya air dan modernisasi teknik pertanian.
RRI.CO.ID, Jakarta - Petani Indonesia memperkuat kesiapan menghadapi El Nino untuk menjaga produksi pangan dan mempertahankan swasembada nasional. Kondisi iklim ekstrem menjadi tantangan utama yang perlu diantisipasi melalui pengelolaan air dan penerapan pertanian modern.
Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kementerian Pertanian Profesor Dedi Nursyamsi menilai kesiapan petani menjadi penting menghadapi perubahan iklim. Menurutnya, El Nino dan La Nina menjadi tantangan terbesar karena sulit diprediksi serta dapat memengaruhi produksi pangan nasional.
"Tantangan paling besar adalah masalah iklim esktrim, seperti El Nino dan La Nina. Selain itu, ada serangan hama penyakit, nah masalah iklim ini tidak bisa diprediksi," ucapnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin, 14 September 2026.
Dedi menjelaskan El Nino menyebabkan curah hujan berkurang signifikan dibandingkan rata-rata kondisi selama 25 tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat petani perlu menyiapkan sumber air alternatif agar kebutuhan tanaman tetap terpenuhi selama musim kering.
Salah satu langkah menghadapi El Nino ialah membangun irigasi suplementer untuk mengalirkan air menuju lahan secara lebih efisien. Petani juga diarahkan menggunakan irigasi tetes dan sprinkle untuk mengurangi kehilangan air selama proses pengairan tanaman.
"Kita membangun irigasi suplementer, yaitu mengocorkan air dari sumber air ke lahan-lahan tanpa ada yang dibuang. Kemudian di lahannya sendiri itu kita memanfaatkan air secara efisien dengan menggunakan irigasi sprinkle," ujarnya.
Ia menilai pengelolaan lahan melalui pertanian konservasi dapat mempertahankan air selama mungkin di dalam tanah. Penggunaan biochar, kompos, dan bahan organik membantu menyerap air ketika hujan serta melepaskannya perlahan saat kemarau.
Kesiapan tersebut didukung berbagai program pemerintah, termasuk penyediaan benih, pupuk subsidi, irigasi perpipaan, dan pendampingan penyuluh. Dedi menyebut dukungan tersebut turut membantu peningkatan produksi beras menjadi 34,7 juta ton sepanjang 2025.
Produksi tersebut meningkat sekitar 13 persen atau hampir empat juta ton dibandingkan capaian sebelumnya. Peningkatan produksi dinilai tidak terlepas dari berbagai langkah antisipasi pemerintah menghadapi kondisi El Nino.
Menurut Dedi, ketahanan pangan menjadi salah satu tanda kedaulatan negara karena kebutuhan pangan tidak bergantung kepada negara lain. Kemandirian pangan juga menjadi dasar ketahanan nasional agar Indonesia tidak mudah didikte atau dikendalikan pihak lain.
"Ketahanan pangan diindikasikan oleh kemandirian pangan, kalau kita mandiri, tidak mungkin kita didikte negara lain. Jadi salah satu bukti bahwa negara kita berdaulat, kita tidak didikte negara lain," katanya.
Selain strategi menghadapi perubahan iklim, penguatan swasembada pangan juga diarahkan melalui pengembangan komoditas unggulan sesuai potensi daerah. Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menilai diversifikasi komoditas dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
"Ketahanan pangan harus berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Kalau petaninya tidak sejahtera, ketahanan pangan tidak akan berkelanjutan,” ujarnya, dikutip dari Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Iftitah mencontohkan pisang sebagai komoditas yang memiliki prospek besar karena permintaan pasar domestik dan internasional terus meningkat. Pengembangannya dapat dilakukan di berbagai wilayah, termasuk kawasan transmigrasi yang memiliki potensi produksi komoditas tersebut. (Shafa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....