Di KTT BRICS, Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Kini Jadi Eksportir Pangan

  • 13 Sep 2026 17:36 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia telah bertransformasi dari negara pengimpor terbesar menjadi eksportir komoditas pangan termasuk biji-bijian, beras, dan jagung.
  • Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri menempatkan Indonesia dalam posisi strategis untuk berkontribusi memperkuat ketahanan pangan dunia.
  • Presiden Prabowo menyampaikan pencapaian ini dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS 2026 di New Delhi, India pada 13 September 2026.

RRI.CO.ID, New Delhi - Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia kini bertransformasi dari negara pengimpor menjadi pengekspor sejumlah komoditas pangan. Presiden mengatakan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri membuat Indonesia semakin siap berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan dunia.

“Selama bertahun-tahun, Indonesia merupakan importir terbesar biji-bijian, beras, dan jagung. Kini, kita telah menjadi eksportir dan akan mampu meningkatkan dukungan untuk seluruh dunia,” ujar Presiden Prabowo saat menghadiri sesi pertemuan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Minggu, 13 September 2026.

Transformasi tersebut, menurut Presiden, menunjukkan bahwa keterbatasan dapat diubah menjadi kapasitas melalui pembangunan dan penguatan kemampuan nasional. Ia meyakini negara-negara BRICS juga memiliki potensi serupa apabila kekuatan masing-masing dapat dihubungkan dan dioptimalkan melalui kerja sama.

Presiden menilai berbagai tantangan global yang saling berkaitan tidak semestinya hanya dipandang sebagai hambatan. Dengan kerja sama yang kuat, tantangan tersebut dapat diubah menjadi peluang untuk meningkatkan investasi dan membuka kesempatan yang lebih baik bagi masyarakat.

“Bersama-sama kita dapat mengubah tantangan-tantangan yang saling terkait ini menjadi peluang untuk investasi yang lebih besar. Pertumbuhan yang menjangkau jutaan rakyat kita akan membuat bangsa kita lebih tangguh,” ucap Presiden.

Kepala Negara menekankan pertumbuhan ekonomi perlu dirasakan secara luas oleh masyarakat. Menurutnya, pembangunan yang inklusif dan inovasi menjadi elemen penting untuk mengubah kekuatan kolektif negara-negara BRICS menjadi kapasitas yang lebih besar.

“Hal itu hanya dapat dicapai ketika pembangunan bersifat inklusif. Jika dipadukan dengan inovasi, kekuatan kolektif kita dapat menjadi kekuatan yang dahsyat, mengubah kelangkaan menjadi kapasitas,” kata Presiden.

Dalam konteks BRICS, Presiden Prabowo melihat negara-negara anggota memiliki sumber daya, kapasitas produksi, dan kekuatan ekonomi yang saling melengkapi. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi fondasi untuk memperkuat posisi BRICS dalam rantai nilai global.

“BRICS sudah menjadi rantai pasokan. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang ada ini dapat menjadi sumber nilai yang lebih besar bagi kita semua,” ujar Presiden.

“Oleh karena itu, izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mari kita optimalkan sumber daya dan kapasitas yang kita miliki bersama,” kata Presiden, menambahkan.

KTT BRICS ke-18 berlangsung di New Delhi pada 12-13 September 2026 di bawah keketuaan India. Forum tersebut mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....