Magnitudo Gempa Kepulauan Seribu Dimutakhirkan Jadi 6,5, Ini Penjelasan BMKG

  • 12 Sep 2026 14:22 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa magnitudo 6,5 di Kepulauan Seribu tergolong gempa dalam karena bersumber dari lempeng samudra dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer
  • BMKG belum menerima laporan gempa susulan hingga Sabtu, 12 September 2026, dan masih terus melakukan pemantauan
  • Gempa tidak berpotensi tsunami karena kedalamannya sangat dalam dan tidak memenuhi kriteria sebagai pembangkit tsunami

RRI.CO.ID, Jakarta - Supervisor On Duty Operasional Gempabumi dan Tsunami BMKG Firzy Reza Gema Ramadhan menyatakan gempa tersebut tergolong gempa dalam. Gempa bersumber dari lempeng samudra yang menunjam sangat dalam ke bawah Pulau Jawa, dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer.

Firzy mengatakan parameter awal BMKG menunjukkan magnitudo 5,9, kemudian diperbarui menjadi magnitudo 6,5 berdasarkan data lebih lengkap. Pemutakhiran dilakukan karena SOP BMKG mengharuskan penyampaian informasi cepat kepada masyarakat dalam waktu kurang dari lima menit.

“SOP BMKG adalah melakukan diseminasi atau penyampaian informasi cepat kepada masyarakat dalam waktu kurang dari lima menit. Karena itu, data awal yang disampaikan masih belum begitu lengkap, nantinya, pada saat parameter diperbarui, datanya jauh lebih lengkap dan komprehensif,” ujarnya kepada RRI PRO3 di Jakarta, Sabtu, 12 September 2026.

Menurutnya, data awal belum lengkap, sedangkan parameter berikutnya menggunakan rekaman lebih panjang sehingga menghasilkan informasi lebih optimal. Firzy menjelaskan rambatan energi gempa dalam melemah bertahap, tetapi dapat menjangkau area geografis yang sangat luas.

Laporan getaran diterima BMKG dari Sumatra Barat hingga Jawa bagian timur, termasuk wilayah Pariaman di Sumatra Barat. Firzy mengatakan wilayah dekat Jakarta justru tidak terlalu banyak merasakan guncangan dibandingkan daerah dalam zona jangkauan luas.

“Karena titik gempanya sangat dalam, seperti yang saya jelaskan tadi, rambatan energi secara vertikal langsung ke atas mengalami pelemahan. Namun, sinar seismiknya berangsur-angsur meluas sehingga daerah yang jauh justru dapat merasakan getarannya,” ucapnya.

Menurutnya, titik gempa yang sangat dalam menyebabkan rambatan energi vertikal melemah, sementara sinar seismik berangsur meluas. BMKG hingga saat dialog berlangsung belum menerima laporan adanya gempa susulan dan masih terus melakukan pemantauan.

“Untuk gempa tadi, sampai sekarang kami belum menerima laporan adanya gempa susulan. Alhamdulillah, sampai saat ini belum ada dan kami masih tetap memonitor, sampai detik ini saya berbicara, belum ada gempa susulan,” kata Firzy.

Ia menyebut gempa tersebut bukan kejadian anomali karena sebelumnya pernah terjadi gempa pada zona kedalaman yang sama. Pada 15 Mei 2024, gempa bermagnitudo 5,4 terjadi di zona kedalaman sama, sedangkan magnitudo 4,5 tercatat pada 14 Agustus 2023.

Firzy menegaskan hasil pemodelan tsunami BMKG tidak menemukan potensi tsunami karena gempa tersebut sangat dalam dan tidak memenuhi kriteria. Kriteria pembangkit tsunami harus berada pada kedalaman dangkal, sekitar di bawah 60 kilometer, sehingga dapat memicu deformasi dasar laut signifikan.

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di masyarakat. Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang struktur atau dindingnya retak maupun rusak akibat gempa bumi.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, karena informasi seperti ini biasanya marak terjadi. Kemudian, masyarakat agar menghindari bangunan yang struktur atau dindingnya retak maupun rusak akibat gempa bumi,” ujar Firzy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....