Dulu Ada Titip Salam, Begini Cara Penyiar Radio Dekat dengan Pendengar
- 10 Sep 2026 23:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Radio telah berperan sebagai media penghubung masyarakat jauh sebelum kehadiran media sosial dan aplikasi pesan.
- Pada era 1980-1990-an, radio memiliki beragam program interaktif yang memungkinkan pendengar untuk terhubung secara langsung dengan penyiar.
- Program titip salam menjadi salah satu inovasi radio yang memberikan ruang kepada pendengar untuk menyampaikan pesan melalui siaran.
RRI.CO.ID, Jakarta — Jauh sebelum media sosial dan aplikasi pesan hadir, radio menjadi salah satu media yang menghubungkan masyarakat. Suara penyiar tidak hanya menemani pendengar, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.
Pada era 1980 hingga 1990-an, radio memiliki berbagai program yang memungkinkan pendengar berinteraksi langsung. Salah satunya adalah program titip salam yang memberi ruang bagi pendengar menyampaikan pesan melalui siaran.
Melansir Omong-Omong, pendengar dapat mengirim salam melalui kartu pos, telepon, datang langsung ke studio, atau menitipkan pesan melalui orang lain. Penyiar kemudian membacakan pesan tersebut kepada pendengar melalui siaran radio.
Program tersebut membuat hubungan antara penyiar dan pendengar terasa lebih dekat. Pendengar bahkan dapat menyampaikan ucapan, permintaan lagu, hingga pesan pribadi melalui program tersebut.
Bagi sebagian pendengar, momen ketika nama mereka disebut penyiar menjadi pengalaman yang berkesan. Program titip salam juga menjadi salah satu bentuk komunikasi publik sebelum masyarakat mengenal media sosial.
Peran penyiar pada masa itu tidak berhenti pada membacakan pesan pendengar. Mereka juga menjadi penghubung antara pendengar dengan program radio yang sedang berlangsung.
Beberapa penyiar bahkan memiliki suara yang begitu khas hingga mudah dikenali pendengar. RRI mencatat nama seperti Hasan Azhari Oramahi, Sazli Rais, Yul Chaidir, Hastin Atas Asih, dan Poppy Tiendas sebagai penyiar RRI tempo dulu.
KPI juga mencatat Sambas Mangundikarta sebagai salah satu penyiar yang dikenal luas sejak era 1950-an. Bagi pendengar RRI pada 1970-an hingga akhir 1990-an, suara Sambas menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan radio.
Karena radio hanya mengandalkan suara, penyiar harus mampu menyampaikan informasi dengan jelas dan menarik. Karakter suara kemudian menjadi salah satu hal yang membuat seorang penyiar mudah diingat pendengarnya.
Kedekatan tersebut juga terlihat dari pengalaman masyarakat yang masih dapat mengenali penyiar hanya melalui suaranya. Pada 2026, Mendikdasmen Abdul Mu'ti bahkan menceritakan bahwa ia masih mengenali suara penyiar idolanya, Kabul Budiono, setelah bertahun-tahun berlalu.
Perkembangan teknologi kemudian mengubah cara penyiar berinteraksi dengan pendengar. Jika dahulu pesan disampaikan melalui kartu pos atau telepon, kini komunikasi dapat berlangsung melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Meski cara berinteraksi berubah, radio tetap mempertahankan kekuatan utamanya melalui suara. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa penyiar bukan hanya pembawa acara, tetapi juga bagian dari hubungan antara radio dan pendengarnya. (Rahmania Ulfah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....