Kalsel Nihil "Hotspot", Kemenhut Fokus Penanganan Karhutla Kalbar dan Kalteng
- 10 Sep 2026 13:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama tim gabungan terus meningkatkan pengendalian terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Terutama di wilayah-wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi titik panas atau hotspot tinggi.
Saat ini Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi perhatian utama dalam operasi pengendalian karhutla. Sedangkan Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) berdasarkan pemantauan terbaru.
Kepala Biro Humas Kemenhut, Ristianto Pribadi, mengatakan pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu dengan menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan. Data nihil hotspot di Kalsel didasarkan pada SiPongi Kemenhut yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Menurut dia, hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 21.04 WIB secara nasional terdeteksi 395 hotspot high confidence. “Ini berarti turun tipis dua titik dibandingkan sehari sebelumnya,” ujarnya, Kamis 10 September 2026.
Ristianto menambahkan dari enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, Kalbar mencatat hotspot high confidence terbanyak yakni 134 titik. Disusul Kalteng 81 titik, Sumatra Selatan (Sumsel) 35 titik, Riau 15 titik, Jambi empat titik, dan Kalsel nihil.
Tingginya hotspot di Kalbar dan Kalteng menjadi dasar peningkatan operasi penanganan karhutla. Baik melalui patroli, pengecekan lapangan (groundcheck), pemadaman darat, hingga dukungan operasi udara.
Sebaliknya, kondisi di Kalsel menunjukkan perkembangan positif. Tidak ditemukan hotspot high confidence dalam pemantauan terakhir di wilayah tersebut.
Meskipun demikian, Kemenhut tetap meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya, kondisi karhutla dapat berubah dengan cepat mengikuti cuaca, kondisi bahan bakar, serta perkembangan api di lapangan.
Kemenhut juga mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Menurut Ristianto, hal itu tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi yang muncul tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan langsung (groundcheck).
Selain pengendalian api, pemerintah juga memantau dampak asap terhadap kualitas udara dan aktivitas masyarakat. Pemantauan kualitas udara berbasis PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi.
“Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang,” kata Ristianto. “Namun, sejumlah wilayah di Kalimantan masih terpantau dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.”
Bahkan, lanjut dia, sebagian area sudah masuk kategori berbahaya. Sama halnya dengan beberapa wilayah di Sumatra yang termasuk kondisi tidak sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....