Hotspot Turun di Empat Provinsi, Pengendalian Karhutla Diperkuat

  • 09 Sep 2026 15:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) menurun di empat dari enam provinsi prioritas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Yakni di kawasan Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Riau, dan Jambi.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus memperkuat pengendalian karhutla melalui operasi darat dan udara, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Saat ini kondisi karhutla masih dinamis sehingga pengendalian dan pemantauan perlu terus dilakukan.

“Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Yang memperlihatkan pada Selasa, 8 September 2026 pukul 21.10 WIB terdeteksi 397 hotspot high confidence secara nasional,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, Rabu, 9 September 2026.

Jumlah tersebut meningkat tipis 11 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 386 titik. Di enam provinsi prioritas, hotspot tercatat masing-masing 76 titik di Sumatera Selatan, 63 titik di Kalimantan Tengah.

Kemudian 12 titik di Kalimantan Barat, delapan titik di Riau. Lalu enam titik di Kalimantan Selatan, dan tiga titik di Jambi.

Penurunan paling signifikan terjadi di Kalimantan Barat, dari 31 menjadi 12 titik. Sementara Sumatra Selatan turun dari 88 menjadi 76 titik dan masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi.

Sebaliknya, hotspot meningkat di Kalimantan Tengah dari 46 menjadi 63 titik dan Kalimantan Selatan dari empat menjadi enam titik. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam penentuan prioritas patroli, groundcheck, serta pengerahan operasi darat dan udara.

Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.

Upaya pengendalian juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pada 8 September 2026, pelaksanaan OMC mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Hujan tersebut membantu proses pembasahan lahan dan mendukung pengendalian kebakaran. Namun, peningkatan hotspot di Kalimantan Tengah menunjukkan kewaspadaan tetap diperlukan meski hujan telah turun di sejumlah wilayah.

Ristianto mengatakan hujan membantu meningkatkan kelembapan lahan, tetapi pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan. Terutama pada lokasi yang masih terdapat api aktif maupun bara di bawah permukaan, terutama di lahan gambut.

“Selain operasi darat, sebanyak 53 armada udara disiagakan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC, sedangkan 34 armada untuk operasi water bombing,” ujarnya.

Pemerintah juga terus memantau kualitas udara berbasis PM2,5. Kondisi kualitas udara masih bervariasi, dengan sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat.

Bahkan, terdapat wilayah di Kalimantan yang berada pada kategori berbahaya. Sementara sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada pada kategori baik hingga sedang.

Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang. Serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....