BNPB: OMC Penanganan Karhutla Kalbar Terkendala Minimnya Bibit Awan di Atmosfer

  • 02 Sep 2026 19:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Modifikasi cuaca belum menghasilkan hujan karena minimnya bibit awan di atmosfer Kalimantan Barat.
  • BNPB mencatat 31 titik api dengan luas kebakaran diperkirakan melampaui 511 hektare.
  • Empat helikopter telah menjatuhkan 408 ribu liter air untuk membantu pemadaman karhutla.

RRI.CO.ID, Pontianak – Operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan Barat belum berhasil menghasilkan hujan. Kondisi tersebut dipengaruhi minimnya bibit awan di atmosfer, sehingga penyemaian garam belum memberikan hasil maksimal.

Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan menyampaikan perkembangan operasi tersebut. Satu armada dikerahkan untuk menyemai 800 kilogram garam selama satu jam 35 menit di Kalimantan Barat.

“Namun demikian, hasil akhir penyemaian ini kurang maksimal, alias tidak ada hujan yang terjadi. Kondisi tersebut karena memang minimnya dan tipisnya bibit-bibit awan yang ada di atmosfer,” ujarnya saat konferensi pers di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Kegagalan menghasilkan hujan terjadi ketika karhutla masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Barat. BNPB mencatat 31 titik api berdasarkan perkembangan kondisi kebakaran pada 1 September 2026.

“Kemarin, 1 September 2026, luas terbakar diperkirakan sebesar 511 hektare lebih. Luas yang berhasil dipadamkan sampai saat ini sebesar 135 hektare lebih,” katanya.

Penanganan karhutla terus dilakukan pada sejumlah lokasi prioritas berdasarkan pemetaan kondisi kebakaran di lapangan. Operasi darat mencakup 25 lokasi yang tersebar pada delapan kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.

Selain operasi darat, Satgas Udara melakukan patroli menggunakan dua armada untuk memantau perkembangan kebakaran. Patroli tersebut dilakukan sebanyak dua sorti dengan total waktu pemantauan mencapai delapan jam 49 menit.

“Satgas Udara juga bekerja melalui patroli dengan dua unit armada untuk melakukan pemantauan. Dua sorti dilakukan dengan waktu pemantauan sebesar delapan jam 49 menit,” ucapnya.

Penanganan udara juga diperkuat dengan pengerahan empat helikopter water bombing pada tiga wilayah prioritas. Helikopter tersebut dikerahkan menuju Kabupaten Mempawah, Ketapang, dan Kubu Raya untuk membantu pemadaman.

Empat helikopter tersebut telah menjatuhkan sekitar 408 ribu liter air pada kawasan yang masih terbakar. Operasi water bombing tercatat membantu memadamkan kebakaran pada area seluas sekitar enam hektare.

Berton mengatakan kondisi cuaca dan atmosfer sangat memengaruhi efektivitas operasi modifikasi cuaca dalam penanganan karhutla. Pertumbuhan bibit awan menjadi faktor penting sebelum penyemaian dilakukan untuk mengoptimalkan peluang terjadinya hujan.

Di tengah penanganan tersebut, kualitas udara Kalimantan Barat masih berada pada kategori berbahaya. Jarak pandang di sejumlah wilayah bahkan tercatat kurang dari satu kilometer akibat kondisi asap.

“Kualitas udara di sana tergolong berbahaya dengan jarak pandang di bawah satu kilometer. Kondisi tersebut masih menjadi perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat,” ujarnya.

Kondisi asap turut berdampak terhadap pelaksanaan kegiatan pendidikan di sejumlah wilayah terdampak karhutla. Kegiatan belajar mengajar tetap dilakukan dari rumah, sementara aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....