Satwa Liar Kehilangan Habitat hingga Masuk Pemukiman Warga Akibat Karhutla

  • 01 Sep 2026 22:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara signifikan mengancam habitat alami dan wilayah jelajah satwa liar di Indonesia.
  • Kondisi darurat karhutla memaksa satwa liar untuk meninggalkan habitatnya dan masuk ke area pemukiman warga, menciptakan potensi konflik manusia-satwa.
  • Sebagian satwa berhasil menyelamatkan diri namun banyak yang terjebak dalam kondisi tidak sehat akibat dampak kebakaran.

RRI.CO.ID, Jakarta - Co-Founder Kawan Alam Indonesia Wanda Syahputra menyebut kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam habitat dan wilayah jelajah satwa. Kondisi ini memaksa sebagian satwa liar mulai meninggalkan habitatnya hingga masuk ke pemukiman warga.

"Sebagian mungkin berhasil menyelamatkan diri. Tapi ada yang terjebak dalam kondisi tidak sehat," ujarnya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Senin, 1 September 2026.

Wanda mengatakan data jumlah satwa terdampak masih terus dihimpun bersama organisasi lingkungan. Spesiesnya mencakup berbagai jenis, termasuk primata seperti orangutan di wilayah Kalimantan.

Upaya penyelamatan dikoordinasikan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan relawan dari berbagai wilayah. Kawan Alam Indonesia mengirim bantuan logistik dan personel ke sejumlah titik karhutla di Kalimantan.

Wanda mengungkapkan, kendala utama yang saat ini dihadapi adalah medan yang masih terbakar dan sulit dijangkau. "Selama api belum dipadamkan, relawan tidak bisa melakukan observasi dan mengidentifikasi satwa apa saja yang terdampak," kata Wanda.

Adapun satwa yang masuk ke pemukiman umumnya mencari makanan dan sumber air. Situasi ini berpotensi memicu konflik dengan warga yang tinggal di sekitar kawasan terdampak.

"Kami berharap optimalisasinya adalah untuk menghindari konflik satwa. Yang marak terjadi adalah satwa yang masih hidup berusaha menyelamatkan diri, lalu masuk ke perumahan warga," katanya.

Relawan dan pemerhati satwa kini menjadi garda terdepan di permukiman yang berpotensi konflik. Posko koordinasi dibentuk untuk merespons laporan kemunculan hewan liar di kawasan pemukiman.

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap satwa yang masuk ke wilayah pemukiman. Masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas berwenang yang berada di posko.

"Kita mengimbau masyarakat, satwa liar itu jangan dikejar, karena satwa itu masih dalam keadaan trauma. Lalu, jangan diberi makan dan jangan coba menangkap sendiri, sebaiknya dilaporkan kepada petugas yang berwenang di posko," ujar Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Veteriner BRIN, drh. Fitrine Ekawasti, dalam kesempatan yang sama.

Warga juga diminta waspada terhadap risiko penyakit zoonosis yang dapat ditularkan dari satwa liar. Setiap temuan satwa di pemukiman sebaiknya segera dilaporkan ke petugas atau posko penanganan terdekat. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....