Warna Lukisan Le Mayeur Mulai Pudar, Kemenbud Siapkan Tim Konservasi

  • 31 Agt 2026 22:24 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenbud akan memeriksa lukisan Le Mayeur di Museum Le Mayeur, Denpasar, karena sejumlah karya mulai mengalami perubahan warna.
  • Konservasi menghadapi tantangan khusus, terutama pada lukisan bermedia karung atau bakor serta kondisi museum yang berada di pesisir Sanur.
  • Kemenbud mendorong promosi Museum Le Mayeur karena kunjungan masih terbatas, padahal museum menyimpan 88 karya seni dan berbagai peninggalan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan akan mengirim tim dari Galeri Nasional untuk memeriksa sejumlah lukisan di Museum Le Mayeur, Denpasar, Bali. Menurut Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon lukisan tersebut mulai mengalami perubahan warna.

Ia mengatakan tantangan konservasi terutama terlihat pada lukisan bermedia karung atau bakor yang digunakan Le Mayeur. Media tersebut dipilih ketika kanvas sulit diperoleh akibat kondisi perang pada masa Perang Dunia II.

"Salah satu tantangannya adalah memudarnya warna-warna, kalau kita lihat warna aslinya, ini sangat kuat sekali. Tapi ada juga warna-warna yang memudar, terutama yang medianya karung atau bakor," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Senin, 31 Agustus 2026.

Ia mengatakan lokasi museum di kawasan pesisir Sanur juga memberi tantangan tersendiri terhadap pemeliharaan koleksi. Pihaknya akan melibatkan tim Galeri Nasional untuk menilai kondisi karya dan menentukan penanganan konservasi yang diperlukan.

Dalam konservasi, pihaknya akan fokus menjaga keaslian lukisan. Termasuk karakter dan warna karya agar tidak terus mengalami penurunan kondisi.

Selain konservasi, Menbud Fadli menyoroti jumlah kunjungan ke Museum Le Mayeur yang masih terbatas. Museum itu rata-rata menerima sekitar 100 pengunjung per bulan dan sebagian besar merupakan wisatawan asing, terutama dari Eropa.

Menurutnya, promosi perlu diperkuat agar karya dan perjalanan hidup Le Mayeur lebih dikenal masyarakat. "Museum Le Mayeur menyimpan 88 karya seni beserta sejumlah peninggalan pelukis asal Belgia tersebut," ucapnya.

Le Mayeur menetap di Bali sejak 1933 setelah melakukan perjalanan ke berbagai negara. Di Bali, ia bertemu Ni Nyoman Pollok, penari Legong yang kemudian menjadi istrinya sekaligus model dalam sejumlah lukisannya.

Keduanya membangun rumah di pesisir Sanur yang kemudian menjadi tempat tinggal sekaligus ruang berkarya Le Mayeur. Banyak lukisannya menggambarkan perempuan Bali, kehidupan masyarakat, budaya, dan lanskap Pulau Dewata dengan corak impresionisme.

Rumah tersebut kini menjadi Museum Le Mayeur dan menyimpan sebagian besar jejak kehidupan serta karya sang pelukis. Keberadaan museum itu turut menjaga warisan artistik Le Mayeur agar tetap dapat dipelajari dan diapresiasi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....