Menbud Fadli Zon Dorong Sejarah Indonesia Lebih Indonesia-Sentris
- 31 Agt 2026 17:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Fadli Zon mendorong penulisan sejarah Indonesia lebih Indonesia-sentris, dengan menempatkan Indonesia sebagai subjek aktif.
- Seri sejarah terbaru tidak hanya membahas tokoh dan peristiwa, tetapi juga sejarah masyarakat lokal, perempuan, masyarakat adat, dan kelompok yang terpinggirkan.
- Penulisan menggunakan pendekatan multidisipliner dan penelitian terbaru untuk memperluas perspektif sejarah Indonesia.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai penulisan sejarah Indonesia perlu menghadirkan perspektif yang lebih beragam. Hal tersebut menjadi salah satu pendekatan dalam seri buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.
Ia mengatakan, buku tersebut tidak hanya bertujuan menambah materi sejarah. Seri ini juga membawa misi untuk mengubah cara masyarakat memahami sejarah Indonesia.
Menurutnya, sejarah seharusnya tidak hanya dipelajari sebagai kumpulan tanggal dan nama tokoh. Sejarah juga dapat menjadi alat untuk memahami akar persoalan serta membentuk cara pandang terhadap masa depan.
“Buku ini mengusung misi besar untuk mengubah paradigma lama, sejarah bukan hanya sekadar hafalan. Sejarah juga merupakan alat kritis untuk memahami akar persoalan,” ujarnya dalam peluncuran buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta Pusat, Senin, 31 Agustus 2026.
Dalam seri tersebut, Indonesia ditempatkan sebagai subjek aktif dalam perjalanan sejarah dunia. Perspektif yang digunakan berupaya mengedepankan sudut pandang Indonesia, bukan semata-mata narasi yang dibentuk dari perspektif kolonial.
“Buku ini menempatkan Indonesia sebagai subjek aktif, Indonesia-sentris, Indonesia perspektif, bukan kolonial perspektif. Interaksi Nusantara dan dunia global diletakkan dalam posisi yang sejajar, bukan sebagai penonton pasif apalagi sekadar korban sejarah,” katanya.
Pendekatan tersebut juga memperluas pembahasan terhadap kelompok dan wilayah yang sebelumnya kurang mendapat ruang. Sejarah masyarakat lokal, perempuan, masyarakat adat, hingga kelompok yang berada di luar pusat kekuasaan turut diangkat.
Fadli menjelaskan, penyusunan buku menggunakan pendekatan multidisipliner. "Menggunakan pendekatan multidisipliner dan menambahkan daerah sosial termasuk sejarah lingkungan, gender, memori kolektif, studi postkolonial, mempelajari relasi kuasa, serta konstruksi identitas secara kognitif," ucapnya.
Dengan pendekatan tersebut, sejarah Indonesia tidak hanya dilihat dari perkembangan di pusat pemerintahan. Perjalanan masyarakat di desa, pulau-pulau, keluarga, dan berbagai kelompok sosial juga menjadi bagian dari narasi sejarah nasional.
Seri buku ini juga mengintegrasikan berbagai hasil penelitian terbaru. Sumber tersebut mencakup disertasi, tesis, artikel ilmiah, jurnal, serta penelitian lain yang relevan.
Pembaruan tersebut turut memperluas pembahasan secara geografis, tematik, dan kronologis. Sejumlah tokoh, wilayah, serta peristiwa yang sebelumnya kurang mendapat perhatian juga dihadirkan dalam seri tersebut.
Fadli berharap karya tersebut dapat memberikan ruang lebih besar bagi sejarah masyarakat Indonesia. Selain menjadi bahan pembelajaran, buku ini diharapkan mendorong masyarakat melihat sejarah secara lebih kritis dan beragam.
Ia menegaskan, seri tersebut bukan akhir dari penulisan sejarah Indonesia. Menurutnya, masih banyak aspek yang perlu diteliti dan dikembangkan oleh sejarawan serta peneliti berikutnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....