Arwani Thomafi Ungkap Lima Mutiara Pedoman Berkhidmah untuk Kemaslahatan Umat

  • 29 Agt 2026 20:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Arwani menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai keikhlasan, moderasi, persatuan, dan nasionalisme sebagai landasan dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU).
  • Menurut Arwani, ber-NU tidak sekadar menjadi bagian dari aktivitas organisasi, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian yang memiliki dimensi keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
  • Arwani menempatkan keikhlasan sebagai fondasi utama dalam setiap bentuk khidmah, khususnya di lingkungan Nahdliyyin.

RRI.CO.ID, Jombang - Berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU) perlu senantiasa berlandaskan nilai-nilai yang menjaga ketulusan pengabdian, keseimbangan dalam bersikap. Serta memperluas manfaat bagi umat dan bangsa.

Hal ini disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Alhamidiyah, Lasem, Rembang, Arwani Thomafi, dalam diskusi bertema “Ber-NU untuk Kemaslahatan Umat”, di Arena Muktamar NU ke-35 di Jombang, Sabtu 29 Agustus 2026. Diskusi tersebut juga dihadiri Komisaris Utama PT ASDP Achmad Baidowi, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV Arya Sandiyudha, serta akademisi UNU Surabaya Mustafa.

Dalam paparannya, Arwani menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai keikhlasan, moderasi, persatuan, dan nasionalisme sebagai landasan dalam berkhidmah di Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut Arwani, ber-NU tidak sekadar menjadi bagian dari aktivitas organisasi. Tetapi juga merupakan bentuk pengabdian yang memiliki dimensi keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

"Ber-NU harus terus diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan. Baik bagi umat, masyarakat maupun bangsa," kata Arwani, yang juga Mustasyar PWNU DKI Jakarta.

Arwani menyebut setidaknya terdapat lima nilai atau Madarij al-Khidmah yang penting dijadikan pedoman dalam menjalankan pengabdian di NU.

Kelima nilai tersebut adalah keikhlasan dalam pengabdian, menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai pedoman, menempatkan ulama sebagai pembimbing umat, menjaga ukhuwah, serta memperkuat semangat nasionalisme atau hubbul wathon.

1. Ikhlas dalam pengabdian

Arwani menempatkan keikhlasan sebagai fondasi utama dalam setiap bentuk khidmah. Menurutnya, nilai tersebut tidak hanya berlaku dalam kehidupan organisasi, tetapi juga dalam keluarga, pesantren, masyarakat, pemerintahan, maupun ruang pengabdian lainnya.

Keikhlasan menjadi energi agar pengabdian tetap berorientasi pada kebaikan dan kemanfaatan.

"Ikhlas merupakan niat hati yang murni dan tulus untuk melakukan suatu pekerjaan atau ibadah hanya semata karena mencari ridha Allah SWT," ujar mantan anggota DPR tiga periode itu.

2. Aswaja sebagai pedoman

Nilai kedua adalah menjadikan Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja sebagai pedoman dalam menjalankan khidmah. Arwani menjelaskan, prinsip Aswaja antara lain tercermin melalui sikap tawassuth atau moderat, tawazzun atau seimbang, i'tidal atau berkeadilan, serta tasamuh atau toleransi.

Nilai-nilai tersebut dinilai penting untuk membangun kehidupan bersama yang harmonis di tengah keberagaman masyarakat. Dengan prinsip itu, pengabdian diharapkan tidak berjalan secara berlebihan, tetapi tetap mengedepankan keseimbangan, keadilan, dan toleransi.

3. Ulama sebagai pembimbing umat

Nilai ketiga adalah menempatkan ulama sebagai pembimbing masyarakat. Arwani mengatakan, ulama memiliki peran strategis dalam memberikan arah perjalanan dan perjuangan umat sekaligus menjadi rujukan moral dalam menghadapi dinamika kehidupan.

"Al ulama yursyiduna al-masirah, para ulama membimbing arah perjalanan perjuangan umat," katanya. Arwani yang juga Ketua Ma'arif NU Cabang Lasem, Rembang, menegaskan bahwa bimbingan ulama diperlukan agar gerak pengabdian tetap berada dalam koridor nilai-nilai keagamaan dan kemaslahatan.

4. Menjaga ukhuwah

Nilai keempat adalah menjaga ukhuwah. Menurut Arwani, ukhuwah merupakan salah satu kekuatan penting untuk membangun kedamaian dan memperkokoh persatuan.

Ukhuwah juga dapat menumbuhkan kasih sayang sekaligus membuka ruang kerja sama dalam berbagai bentuk kebaikan. "Ukhuwah menjadi modal sosial untuk merawat kebersamaan di tengah perbedaan," ujarnya.

5. Memperkuat hubbul wathon

Nilai terakhir yang ditekankan Arwani adalah memperkuat semangat nasionalisme atau hubbul wathon. Ia menilai kecintaan kepada tanah air harus menjadi energi untuk memperluas ruang pengabdian.

Dengan demikian, kata Arwani, khidmah tidak berhenti pada kepentingan internal organisasi, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan bangsa.

"Hubbul Wathon Tuwassi'u al-Khidmah," ucapnya.

Arwani menilai kelima nilai tersebut dapat menjadi pedoman dalam menghidupkan semangat ber-NU sebagai bentuk pengabdian yang tulus, moderat, mengedepankan persatuan, dan berorientasi pada kemaslahatan. Ia menekankan, nilai-nilai tersebut perlu terus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari agar khidmah di NU senantiasa berpijak pada kemaslahatan umat, masyarakat, dan Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....