Wapres Hadiri Muktamar ke-35 NU, Perkuat Sinergi Pemerintah dan Ulama
- 29 Agt 2026 06:16 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wapres Gibran Rakabuming menghadiri pembukaan Muktamar ke-35 NU di Jombang
- Kehadiran Wapres memperkuat komunikasi pemerintah dengan ulama dan kalangan pesantren
- Presiden Prabowo menegaskan NU sebagai salah satu aset besar bangsa
- PBNU menekankan pentingnya sinergi NU dengan arah pembangunan bangsa dan negara
- Pesantren didorong tidak hanya berperan dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga pengembangan SDM, teknologi, dan ekonomi
RRI.CO.ID, Jombang – Wakil Presiden (Wapres) RI, Gibran Rakabuming menghadiri Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur. Kehadiran Wapres mendampingi Presiden Prabowo Subianto menjadi bagian dari penguatan komunikasi pemerintah dengan ulama dan kalangan pesantren.
Muktamar ke-35 NU berlangsung di Lapangan Untung Suropati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kamis 27 Agustus 2026. Muktamar mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa”.
Kehadiran Wapres juga mempertegas perannya sebagai penghubung pemerintah dengan ulama dan kalangan pesantren. Peran tersebut sejalan dengan harapan keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Sebelumnya, keluarga besar pesantren meminta Wapres menjadi penghubung antara ulama, kiai pesantren, dan pemerintah. Hal tersebut memperkuat posisi komunikasi antara pemerintah dan masyarakat pesantren.
Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan posisi strategis NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, NU merupakan salah satu aset besar bangsa Indonesia.
“Nahdlatul Ulama aset bangsa yang sangat-sangat besar, sama dengan Muhammadiyah,” kata Prabowo.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf juga menekankan pentingnya sinergi dengan pemerintah. Menurutnya, arah NU perlu berjalan selaras dengan arah bangsa dan negara.
“Maka tidak boleh arah Nahdlatul Ulama ini tidak bersesuai dengan arah bangsa dan negara,” kata Yahya.
Yahya juga menegaskan hubungan NU dan Indonesia tidak dapat dipisahkan. Karena itu, NU perlu terus berkontribusi menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Kedekatan Wapres dengan kalangan pesantren sebelumnya juga dibangun melalui berbagai silaturahmi dan dialog. Sejumlah isu nasional dan global turut dibahas dalam berbagai pertemuan tersebut.
Isu tersebut antara lain stabilitas nasional, penyelenggaraan haji, pendidikan, penguatan pesantren, serta perlindungan warga negara Indonesia. Komunikasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menyerap aspirasi kalangan ulama dan pesantren.
Wapres juga mendorong generasi santri memiliki kemampuan menghadapi perkembangan teknologi. Kecerdasan buatan, robotika, blockchain, pertanian modern, dan peternakan modern menjadi bidang yang didorong untuk dikuasai santri.
Perhatian tersebut tidak hanya diarahkan pada aspek keagamaan. Wapres juga mendorong pesantren menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia dan kekuatan ekonomi baru.
Dalam konteks Muktamar ke-35 NU, sinergi pemerintah dan NU kembali ditekankan sebagai bagian dari upaya menghadirkan kemaslahatan bangsa. Kerja sama tersebut mencakup pendidikan, pemberdayaan ekonomi, teknologi, kehidupan sosial, dan kebangsaan.
Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27 hingga 31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Forum tersebut menjadi ruang bagi NU untuk membahas arah organisasi sekaligus kontribusinya bagi bangsa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....