Anak Petani dari Flores, Sulaiman Kini Mengabdi sebagai Wali Asuh di Sekolah Rakyat

  • 29 Agt 2026 11:01 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sulaiman Sulang, 42 tahun, merupakan anak petani asal Flores yang kini mengabdi sebagai Wali Asuh di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang
  • Pengalaman hidupnya dalam memperjuangkan pendidikan menjadi modal untuk mendampingi siswa dari keluarga kurang mampu
  • Sulaiman pernah kuliah dengan menumpang dan membantu pekerjaan dosen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
  • Ia kemudian menjadi penulis dengan 44 buku ber-ISBN dan mendapat penghargaan sebagai penulis buku terbanyak di Jawa Timur pada 2025
  • Sebagai Wali Asuh, Sulaiman tidak hanya mendampingi kegiatan sekolah, tetapi juga memberikan motivasi dan pengalaman hidup kepada siswa

RRI.CO.ID, Malang – Sulaiman Sulang, 42 tahun, memahami betul arti pendidikan bagi anak dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Lahir dari keluarga petani di Flores, Nusa Tenggara Timur, Sulaiman kini mengabdikan diri sebagai Wali Asuh di Sekolah Rakyat Kabupaten Malang.

Pengalaman hidup tersebut membuat Sulaiman memiliki kedekatan tersendiri dengan siswa yang didampinginya. Ia pernah merasakan bagaimana pendidikan harus diperjuangkan ketika kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan.

Sulaiman bahkan pernah merantau ke Malang untuk melanjutkan pendidikan. Selama kuliah, ia tinggal menumpang dan membantu pekerjaan dosennya untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Saya sore itu pasti ke rumahnya dosen. Di situ saya membantu cuci piring, siram tanaman setiap sore hari, nyapu halaman. Itu hanya untuk bisa buat makan,” ucap Sulaiman seperti dalam rilis resmi Kemensos, Jumat 28 Agustus 2026.

Pengalaman tersebut kemudian membentuk perjalanan Sulaiman hingga menjadi penulis. Setelah menyelesaikan kuliah, ia menulis 44 judul buku yang seluruhnya telah memiliki ISBN.

Pada 2025, Sulaiman juga mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur sebagai penulis buku terbanyak di Jawa Timur. Ia juga aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan dan pengolahan limbah sampah.

Pengalaman itulah yang kini ingin dibagikan Sulaiman kepada siswa Sekolah Rakyat. Ia berharap kisah hidupnya dapat menjadi motivasi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk tidak mudah menyerah.

“Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya,” ucap Sulaiman.

Sebagai Wali Asuh, Sulaiman tidak hanya mendampingi siswa dalam kegiatan sekolah. Ia juga berusaha memahami kebutuhan mereka yang sebagian berasal dari keluarga Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Menurut Sulaiman, sebagian siswa bahkan memiliki pengalaman putus sekolah. Kondisi tersebut membuat pendampingan membutuhkan perhatian, waktu, tenaga, dan pikiran.

“Waktu, kita bimbing mereka, dampingi mereka. Tenaga, ayo kita membantu mereka, kerja bakti, membantu mereka. Pikiran, ide-ide apa yang kita punya, kita transfer ke mereka,” katanya.

Sulaiman mengaku menemukan pengalaman berbeda setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat. Selama 15 tahun sebelumnya, ia bekerja sebagai staf tata usaha di salah satu SMK Negeri.

Menurutnya, karakter siswa di Sekolah Rakyat berbeda dengan siswa yang selama ini ditemuinya. Pendampingan di lingkungan baru tersebut membuatnya semakin memahami kebutuhan anak-anak secara personal.

Kedekatan tersebut terlihat dari respons siswa ketika Sulaiman tidak berada di lingkungan sekolah. Mereka bahkan kerap menanyakan keberadaan Sulaiman ketika ia sedang libur atau menjalankan tugas lain.

“Kalau anak-anak, saya dua hari libur atau ada dinas ke mana, itu anak-anak mencari, Pak Sule ke mana? Kok tidak kelihatan?” katanya.

Bagi Sulaiman, perhatian sederhana tersebut membuat tugas sebagai Wali Asuh terasa lebih dari sekadar pekerjaan. Ia memandang pendampingan anak-anak Sekolah Rakyat sebagai kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada mereka.

“Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa, karena di situ saya belajar masuk surga,” ujar Sulaiman.

Ia berharap pengalaman menulis, pendidikan, serta aktivitas konservasi yang dimilikinya dapat dibagikan kepada para siswa. Baginya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti memiliki cita-cita.

“Saya selalu menyampaikan, inilah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa keliling Indonesia, bisa diundang di beberapa negara,” ucapnya.

Pengalaman Sulaiman menunjukkan bahwa pendampingan di Sekolah Rakyat tidak hanya berlangsung melalui pembelajaran. Pengalaman hidup para pendamping juga dapat menjadi sumber motivasi bagi anak-anak untuk membangun masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....