Ratusan Hektare Lahan PBPH Terbakar, Kemenhut Perkuat Cegah Karhutla Kalsel

  • 26 Agt 2026 12:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan. Pasalnya, sepanjang Januari-Juli 2026, luas karhutla yang tercatat di areal pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) mencapai 502,89 hektare.

Kondisi tersebut mendorong peningkatan kesiapsiagaan pemegang PBPH melalui pemantauan titik panas atau hotspot. Kemudian patroli, verifikasi lapangan hingga penguatan sarana dan prasarana pemadaman.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SIPONGI) Kemenhut menggunakan satelit NOAA-20 (VIIRS) telah terdeteksi 180 hotspot. Jumlah tersebut terpantau pada titik panas pada 24 Agustus 2026 dengan tingkat kepercayaan medium-high di Kalimantan Selatan.

Hotspot tersebut tersebar di sejumlah wilayah, antara lain 40 titik di Kabupaten Banjar, 54 titik di Hulu Sungai Selatan. Lalu 15 titik di Kota Banjarbaru, serta 13 titik di Hulu Sungai Utara. Sisanya tersebar di beberapa kabupaten lainnya.

“Dari total 180 hotspot tersebut, sebanyak 15 titik atau 8,33 persen berada di dalam areal PBPH. Sementara 165 hotspot atau 91,67 persen berada di luar areal PBPH,” kata Kabiro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, Rabu, 25 Agustus 2026.

Kemenhut telah menyampaikan informasi terkait 15 hotspot di dalam areal PBPH kepada perusahaan pemegang izin. Untuk selanjutnya segera ditindaklanjuti dan diverifikasi di lapangan.

Kepala Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah XI Banjarbaru mendorong pemegang PBPH meningkatkan kesiapsiagaan. Termasuk melalui monitoring hotspot harian, patroli menara pantau, kesiapan posko, personel, sarana prasarana, hingga ground check.

Kemenhut menegaskan hotspot tidak otomatis menunjukkan telah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit sehingga perlu diverifikasi.

Selain verifikasi, langkah penanganan juga mencakup pemadaman apabila ditemukan kebakaran. Langkah selanjutnya patroli terpadu, pemasangan papan imbauan, serta kampanye pencegahan karhutla kepada masyarakat.

“Penguatan deteksi dini dan respons cepat diharapkan mampu menekan risiko meluasnya karhutla. Sekaligus melindungi hutan, lingkungan, kesehatan, dan aktivitas masyarakat di Kalimantan Selatan,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....