Dampak Gempa Magnitudo 7,7 NTT, Retakan 100 Meter Muncul di Kawah Gunung Kelimutu
- 25 Agt 2026 08:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tim survei Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan, retakan sepanjang sekitar 100 meter di NTT. Tepatnya, di kawasan bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo, Gunung Kelimutu.
- Temuan tersebut, Badan Geologi ESDM mengatakan, teridentifikasi setelah wilayah Flores diguncang gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
- Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tim survei Badan Geologi Kementerian ESDM menemukan, retakan sepanjang sekitar 100 meter di NTT. Tepatnya, di kawasan bibir Kawah I atau Tiwu Ata Polo, Gunung Kelimutu.
Temuan tersebut, Badan Geologi ESDM mengatakan, teridentifikasi setelah wilayah Flores diguncang gempa bumi magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Kepala Badan Geologi ESDM, Lana Saria mengatakan, temuan retakan diperoleh melalui pengamatan langsung serta pemantauan menggunakan drone.
Survei tersebut, ia menjelaskan, dilakukan untuk melihat perubahan morfologi kawasan kawah setelah gempa besar. Dan juga, rangkaian gempa susulan yang terjadi di Flores.
"Kondisi retakan tersebut perlu mendapat perhatian karena terdapat potensi perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I. Terutama, apabila terjadi gempa susulan atau hujan dengan intensitas tinggi,” kata Lana dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara, di Jakarta, dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.
Hasil pemetaan Badan Geologi ESDM, retakan tersebut dan berada kurang lebih enam meter dari bibir Kawah I. Posisi retakan sepanjang 100 meter itu, mengarah ke timur laut dan mengikuti kemiringan lereng kawasan kawah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, karena perkembangan retakan berpotensi menyebabkan material sekitar lereng bergerak (longsor) menuju bagian dalam kawah. Risiko tersebut, dapat meningkat apabila kawasan kembali diguncang gempa susulan atau diguyur hujan dengan intensitas tinggi.
"Tim survei juga mendapati adanya longsoran material endapan lama di Kawah II (Tiwu Koofai Nuwamuri). Material tersebut bergerak menuju bagian dalam kawah dan sempat menimbulkan suara gemuruh yang cukup keras dari kawasan puncak Gunung Kelimutu," ucap Lana.
Badan Geologi ESDM memastikan, tingkat aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu masih berada pada Level I (Normal). Meski terdapat perubahan morfologi dan longsoran material.
Dengan status tersebut, belum ada peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Kelimutu akibat temuan retakan tersebut. Namun, kondisi geologi sekitar kawah perlu mendapatkan perhatian, karena Gunung Kelimutu merupakan salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi.
"Masyarakat dan wisatawan tidak mendekati kawasan retakan yang berada di sekitar bibir Kawah I. Pengunjung harus menghindari area dalam radius sekitar 6 hingga 10 meter dari bibir Kawah I," ujar Lana.
Imbauan tersebut dikeluarkan, sebagai langkah pencegahan untuk menghindari potensi bahaya. Tepatnya, apabila retakan mengalami perkembangan atau terjadi pergerakan material di sekitar lereng.
Badan Geologi ESDM juga meminta, pemerintah daerah bersama pengelola kawasan segera memperkuat sistem pengamanan di sekitar lokasi. Pemasangan garis pembatas serta papan peringatan bahaya, dinilai penting agar wisatawan tidak memasuki zona yang memiliki potensi risiko.
| Baca juga: Gempa Magnitudo 3,2 Guncang Manggarai NTT |
Selain pengamanan fisik, pemantauan terhadap kondisi Gunung Kelimutu juga akan terus dilakukan. Pemerintah daerah dan pengelola kawasan diminta berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Kelimutu di Kabupaten Ende.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....