Indonesia Dorong Digitalisasi Ketahanan Pangan APEC

  • 25 Agt 2026 04:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Indonesia mendorong inovasi dan digitalisasi untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia Pasifik
  • Bapanas mengawal agenda ketahanan pangan Indonesia dalam APEC Food Security Week di Dalian
  • Indonesia mendorong penerapan OSS, e-certificate, dan INSW untuk mendukung perdagangan pangan internasional
  • Tiga dokumen ketahanan pangan APEC mendapat endorsement dan akan diadopsi dalam pertemuan menteri APEC
  • Bapanas menilai transformasi pangan membutuhkan kolaborasi, inovasi, dan digitalisasi untuk memperkuat sistem pangan

RRI.CO.ID, Jakarta - Indonesia mendorong inovasi dan digitalisasi untuk memperkuat sistem pangan kawasan Asia Pasifik. Dorongan tersebut disampaikan dalam Policy Partnership on Food Security (PPFS) di bawah forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC).

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjadi National Focal Point APEC PPFS. Bapanas mengawal pembahasan agenda ketahanan pangan dalam APEC Food Security Week di Dalian, Republik Rakyat Tiongkok, 18-22 Agustus 2026.

Ketua Tim Kerja Sama Bapanas, Sulistiyorini, mengatakan Indonesia aktif mengawal substansi pembahasan dalam forum tersebut. Menurutnya, ketahanan pangan membutuhkan inovasi, digitalisasi, dan kolaborasi lintas ekonomi.

“Indonesia tentunya aktif mengawal substansi pembahasan agar kerja sama yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan dan kepentingan nasional,” ujar Sulistiyorini, dikutip Senin 24 Agustus 2026.

Menurut Sulistiyorini, keterlibatan Indonesia menjadi momentum memastikan kepentingan nasional terakomodasi. Pengawalan agenda PPFS telah dilakukan sejak Februari melalui negosiasi virtual, konsultasi, dan masukan tertulis.

“Proses negosiasi dan penyampaian masukan dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan perspektif Indonesia dapat tercermin dalam dokumen yang akan disepakati secara konsensus,” katanya.

Dalam PPFS Plenary Meeting, Indonesia juga menyampaikan perkembangan inovasi dan digitalisasi pangan. Salah satunya melalui penerapan Online Single Submission (OSS), e-certificate, dan Indonesia National Single Window (INSW) untuk memfasilitasi perdagangan pangan internasional.

Sementara itu, tiga deliverables PPFS telah mendapatkan endorsement pada 21 Agustus 2026. Ketiganya akan diadopsi dalam 11th APEC Food Security Ministerial Meeting (FSMM) di Hangzhou, RRT, 24-25 Agustus 2026.

Ketiga dokumen tersebut mencakup prinsip penguatan ketahanan sistem pangan melalui inovasi dan digitalisasi. Selain itu, terdapat Joint Statement 11th APEC Food Security Ministerial Meeting dan Expert Group Operational Document.

Dokumen prinsip tersebut menyediakan opsi bagi ekonomi APEC untuk memperkuat ketahanan sistem pangan. Dokumen itu memuat lima prinsip utama yang dilengkapi dengan rencana aksi.

Sementara Joint Statement memuat delapan isu kunci ketahanan pangan kawasan. Isu tersebut mencakup inovasi dan digitalisasi, food loss and waste (FLW), sumber daya alam, perikanan, perdagangan, investasi, pembangunan pedesaan, serta penguatan fora APEC.

Adapun Expert Group Operational Document menjadi panduan bagi kelompok ahli PPFS. Panduan tersebut ditujukan agar kerja kelompok berjalan lebih efektif, terkoordinasi, dan transparan.

Rangkaian APEC Food Security Week juga mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Forum tersebut membahas pemanfaatan teknologi untuk membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan efisien.

Sulistiyorini mengatakan transformasi sistem pangan membutuhkan pendekatan menyeluruh. Inovasi dan digitalisasi diharapkan memperkuat efisiensi, ketahanan, dan kualitas sistem pangan.

“Transformasi sistem pangan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Inovasi dan digitalisasi harus dapat memperkuat efisiensi, ketahanan, dan kualitas sistem pangan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....