Mengapa Lahan Gambut di Kalimantan Mudah Terbakar? Ini Penjelasannya

  • 23 Agt 2026 14:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lahan gambut sangat rentan terbakar ketika mengalami pengeringan dan memerlukan pengelolaan yang tepat untuk mencegah kebakaran.
  • Sekitar 98 persen kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia terjadi akibat aktivitas manusia, baik sengaja maupun kelalaian dalam pengelolaan lahan.
  • Praktik pembukaan lahan menggunakan api merupakan salah satu faktor utama yang mempercepat terjadinya kebakaran di wilayah gambut.

RRI.CO.ID, Jakarta - Lahan gambut menjadi salah satu wilayah yang rentan terbakar ketika mengalami pengeringan. Kondisi tersebut diperparah praktik pembukaan lahan menggunakan api dan pengelolaan gambut yang tidak tepat.

Mengutip laman World Resouce Institute, sekitar 98 persen kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia disebut terjadi akibat aktivitas manusia. Aktivitas tersebut dapat berupa kesengajaan maupun kelalaian dalam pengelolaan lahan.

Salah satu praktik yang masih ditemukan yakni pembukaan lahan dengan cara membakar. Cara tersebut dianggap lebih mudah, murah, dan cepat dibandingkan metode pembukaan lahan lainnya.

Padahal, pembakaran justru dapat merusak kondisi biofisik gambut dan meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran. Risiko semakin besar ketika lahan gambut dikeringkan melalui sistem drainase yang terlalu dalam.

Lahan gambut secara alami memiliki kemampuan menyimpan air dalam jumlah besar. Ketika mengalami pengeringan, lapisan gambut bagian atas kehilangan kelembapannya sehingga lebih mudah terbakar.

Kondisi gambut yang terlalu kering bahkan dapat mengalami irreversible drying atau kering tidak balik. Pada kondisi tersebut, kemampuan gambut untuk menampung air dapat hilang secara permanen.

Kebakaran juga dapat meningkatkan suhu permukaan gambut hingga sangat tinggi. Kondisi tersebut memicu perubahan komponen kimiawi gambut sehingga tanah menjadi semakin sulit menyerap air.

Ketika gambut telah kehilangan kemampuan menyimpan air, bahan organik di dalamnya menjadi sumber bahan bakar. Api kemudian dapat menyebar lebih luas dan sulit dikendalikan.

Karakteristik tersebut membuat kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran pada lahan biasa. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat merambat ke lapisan gambut.

Dampak pembakaran juga tidak berhenti setelah api berhasil dipadamkan. Kebakaran dapat menghilangkan unsur hara penting dan menurunkan kesuburan tanah gambut.

Pembakaran juga menyebabkan hilangnya cadangan karbon dalam jumlah besar yang tersimpan di ekosistem gambut. Pelepasan karbon tersebut turut memperburuk dampak perubahan iklim.

Lahan gambut hanya mencakup sekitar tiga persen dari total daratan dunia. Namun, ekosistem tersebut mampu menyimpan sekitar 550 gigaton karbon.

Di Indonesia, lahan gambut disebut mampu menyimpan hingga 57 gigaton karbon. Jumlah tersebut sekitar 20 kali lebih besar dibandingkan karbon yang tersimpan pada tanah mineral.

Selain kehilangan karbon, kebakaran juga dapat mempercepat penurunan permukaan tanah atau subsiden. Permukaan gambut yang terbakar biasanya menjadi lebih rendah dibandingkan lahan sekitarnya.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan air berkumpul ketika musim hujan dan meningkatkan risiko genangan. Jika telah mencapai batas drainability limit, lahan bahkan berpotensi tergenang secara permanen.

Pembakaran berulang juga dapat menghilangkan lapisan organik gambut secara bertahap. Jika terus berlangsung, kondisi tersebut dapat menyebabkan ekosistem gambut kehilangan fungsi dan keberadaannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....