Ketahui Lima Penyebab Karhutla di Kalimantan Mudah Meluas
- 23 Agt 2026 10:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di Kalimantan memasuki musim kemarau 2026 dengan risiko yang semakin tinggi.
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan peningkatan risiko karhutla pada periode Agustus hingga September 2026.
- Kombinasi aktivitas manusia, kekeringan, fenomena El Niño, potensi gambut, dan angin mempercepat penyebaran kebakaran hutan dan lahan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di Kalimantan saat musim kemarau 2026 memasuki periode rawan. Kondisi tersebut diperparah kombinasi aktivitas manusia, kekeringan, El Nino, gambut, dan angin.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan risiko karhutla meningkat pada Agustus hingga September. Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang mendapat perhatian dalam periode tersebut.
Lantas, mengapa kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan sulit dipadamkan? Berikut lima faktor yang membuat karhutla mudah berkembang dan penanganannya membutuhkan waktu dikutip dari laman BNPB.
1. Aktivitas manusia menjadi sumber api
Karhutla dalam banyak kasus bermula dari aktivitas manusia, termasuk pembukaan atau pembersihan lahan menggunakan metode pembakaran. Risiko juga muncul dari pembakaran sampah atau sumber api lainnya.
Cara tersebut kerap dipilih karena dianggap lebih cepat dan murah dibandingkan metode pembukaan lahan lainnya. Persoalan muncul ketika api kehilangan kendali dan merambat menuju vegetasi kering maupun lahan gambut.
2. Musim kemarau membuat lahan semakin kering
Musim kemarau mengurangi kelembapan tanah dan vegetasi. Sehingga material seperti daun, semak, rumput, serta bahan organik menjadi mudah terbakar.
Ketika periode tanpa hujan berlangsung panjang, api lebih mudah menyala dan menjalar ke area yang lebih luas. Kondisi tersebut membuat risiko karhutla meningkat selama musim kemarau.
3. El Nino memperparah kekeringan
Kondisi karhutla tahun ini juga berlangsung bersamaan dengan fenomena El Nino yang meningkatkan kerawanan kebakaran. El Nino dan musim kemarau merupakan dua fenomena berbeda.
Namun, ketika keduanya berlangsung bersamaan, curah hujan dapat berkurang sehingga permukaan lahan menjadi semakin kering. Kondisi tersebut membuat bahan bakar alami lebih mudah terbakar.
Pada akhir Juli, BMKG mencatat indeks Niño 3.4 mencapai 1,56 atau melewati ambang kategori El Nino kuat. Risiko karhutla kemudian diperkirakan mencapai periode tertinggi pada Agustus hingga September.
Pemerintah juga mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjaga kelembapan wilayah rawan. Hal ini dilakukan untuk membantu penanganan kebakaran.
4. Gambut bisa menyimpan bara di bawah tanah
Lahan gambut menjadi salah satu faktor yang membuat karhutla di Kalimantan sulit dipadamkan. Ketika kehilangan banyak air dan mengering, material organik gambut menjadi sangat mudah terbakar.
Api bahkan dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah. Karena itu, api yang terlihat sudah padam belum tentu berarti kebakaran benar-benar telah selesai.
Kepala BNPB Suharyanto sebelumnya menjelaskan pemadaman gambut membutuhkan pembasahan secara menyeluruh. Proses tersebut dapat dilakukan berulang menggunakan pemadaman dari darat maupun operasi water bombing.
Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang menghadapi persoalan tersebut. BNPB mencatat luas lahan terdampak kebakaran di provinsi itu mencapai 3.069,52 hektare pada akhir Juli.
5. Angin mempercepat penyebaran api
Setelah api muncul, angin dapat mempercepat penyebarannya ke wilayah lain. Kondisi tersebut semakin berbahaya ketika api bertemu semak, rumput, dan vegetasi yang sudah mengering.
Semakin banyak bahan bakar kering di sekitar titik kebakaran, semakin sulit petugas mengendalikan perluasan api. Angin juga dapat membuat api bergerak menuju area yang sebelumnya belum terbakar.
Kombinasi angin, vegetasi kering, dan gambut membuat kebakaran dapat berkembang meskipun sumber awalnya relatif kecil. Karena itu, deteksi titik panas dan pemadaman sejak dini menjadi penting.
Pencegahan sumber api menjadi langkah penting sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih luas. Pembasahan lahan gambut dan pemantauan titik panas juga diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas.
Ancaman karhutla 2026 menunjukkan pentingnya pencegahan dan penanganan secara berkelanjutan. Terlebih, periode Agustus hingga September diperkirakan menjadi fase rawan karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....