Rumah Rusak akibat Gempa NTT Dapat Bantuan Rp15-30 Juta BNPB, Begini Skemanya
- 23 Agt 2026 09:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan, bantuan untuk warga yang rumahnya rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT. Bantuan tersebut, diberikan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan rumah.
- BNPB menjelaskan, nilai dana stimulan mencapai Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
- Data tersebut nantinya harus melewati verifikasi teknis sebelum pemerintah menetapkan warga yang berhak menerima bantuan. Akan diberikan dana stimulan untuk rusak sedang Rp30 juta, sedangkan untuk rusak ringan Rp15 juta
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan, bantuan untuk warga yang rumahnya rusak akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT. Bantuan tersebut, diberikan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan rumah.
BNPB menjelaskan, nilai dana stimulan mencapai Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, proses pendataan rumah terdampak masih berlangsung.
"Data tersebut nantinya harus melewati verifikasi teknis sebelum pemerintah menetapkan warga yang berhak menerima bantuan. Akan diberikan dana stimulan untuk rusak sedang Rp30 juta, sedangkan untuk rusak ringan Rp15 juta,” kata Berton dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Minggu, 23 Agustus 2026.
Pernyataan BNPB tersebut, menjadi dasar skema bantuan perbaikan rumah bagi warga yang bangunannya masih memungkinkan untuk diperbaiki. Sementara, bagi rumah masuk kategori rusak berat, pemerintah menyiapkan skema hunian pengganti sebagai solusi jangka panjang bagi warga terdampak.
Besaran anggaran pembangunan, Berton mengatakan, disesuaikan dengan standar harga dan ketentuan penganggaran yang berlaku.
“Rumah rusak berat akan dibuat rumah baru, sesuai dengan anggaran yang ada dan penganggaran yang ada," ucap Berton.
Tidak hanya itu, Berton mengungkapkan, pemerintah juga menyiapkan pilihan hunian sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Hal itu, sambil menunggu solusi hunian tetap.
BNPB menegaskan, bantuan perbaikan rumah belum dapat langsung disalurkan karena pemerintah masih melakukan pencocokan dan validasi data di lapangan. Langkah tersebut, dilakukan untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan diberikan berdasarkan tingkat kerusakan yang telah diverifikasi.
Di sisi lain, situasi kemanusiaan pascagempa NTT masih menjadi perhatian serius pemerintah. Sampai Sabtu, 22 Agustus 2026, BNPB mencatat, korban meninggal dunia mencapai 87 orang.
Kemudian, sebanyak 1.298 warga mengalami luka-luka dan 336 di antaranya mengalami luka berat. Jumlah warga yang mengungsi juga terus meningkat akibat aktivitas gempa susulan yang masih terjadi.
BNPB mencatat, sebanyak 150.576 jiwa masih berada di lokasi pengungsian, dengan Kabupaten Manggarai menjadi wilayah yang memiliki jumlah pengungsi terbesar. Aktivitas kegempaan di NTT juga belum sepenuhnya mereda setelah gempa utama pada 15 Agustus 2026.
Hingga Sabtu kemarin, BNPB mencatat telah terjadi 5.012 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Sedangkan, 124 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah masih memprioritaskan penanganan darurat, terutama pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di pengungsian. Distribusi bantuan pangan, kebutuhan kesehatan, perlengkapan hunian sementara dan berbagai kebutuhan mendesak terus dilakukan ke wilayah terdampak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....