Komisi XII Tekankan Eksplorasi Sumur Baru untuk Jaga Lifting Minyak
- 23 Agt 2026 03:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Komisi XII DPR mendorong percepatan eksplorasi sumur dan lapangan baru untuk menjaga lifting minyak nasional.
- Blok Mahakam tetap memproduksi sekitar 24 ribu barel minyak per hari meski sebagian sumurnya telah berusia 57 tahun.
- Optimalisasi sumur lama melalui workover perlu berjalan bersamaan dengan eksplorasi cadangan baru.
RRI.CO.ID, Jakarta - Komisi XII DPR RI mendorong percepatan eksplorasi sumur dan lapangan baru untuk menjaga lifting minyak nasional. Langkah tersebut diperlukan karena produksi nasional masih banyak bergantung pada lapangan minyak yang sudah tua.
Anggota Komisi XII DPR RI, Syarif Fasha, menyampaikan hal tersebut saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi XII DPR RI. Kunjungan berlangsung di PT Pertamina Hulu Mahakam, Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat, 21 Agustus 2026.
Fasha mengapresiasi kinerja Pertamina Hulu Mahakam dalam mempertahankan produksi Blok Mahakam. Ia menyebut, sejumlah sumur di wilayah kerja tersebut bahkan telah berusia sekitar 57 tahun.
“Kita harus pahami dahulu bahwa yang dikelola Pertamina Hulu Mahakam adalah blok-blok sumur yang sudah tua sekali, yang usianya sudah 57 tahun. Jadi mau diupayakan sedapat mungkin supaya dia tetap produktif,” ujar Fasha.
Menurutnya, penurunan produksi pada lapangan tua merupakan proses alamiah yang sulit dihindari. Karena itu, peningkatan lifting harus dilakukan melalui optimalisasi sumur lama dan pencarian cadangan baru.
“Kalau kita mau jaga produksinya seperti sebelum-sebelumnya itu tidak bisa juga, karena ini adalah hukum alam. Bahan bakar fosil itu semakin lama semakin terkuras, semakin habis, jadi harus mencari sumur-sumur baru lagi,” katanya.
Ia menjelaskan, Blok Mahakam masih memberikan kontribusi terhadap produksi minyak nasional meski menghadapi tantangan usia lapangan. Produksi minyak Blok Mahakam tercatat sekitar 24 ribu barel per hari pada Juli 2026.
Angka tersebut berada di atas target APBN sekitar 22 ribu barel per hari. Selain minyak, Blok Mahakam juga menjadi salah satu penopang produksi gas nasional setelah Tangguh.
Fasha menilai lapangan tua tetap berpotensi memberikan kontribusi apabila dikelola secara optimal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali sumur-sumur yang sebelumnya tidak berproduksi.
“Terkait menambah lifting, ada sumur-sumur yang sudah idle kemudian dilaksanakan pekerjaan workover. Berarti sumur-sumur tua ini mau dihidupkan kembali,” ucapnya.
Namun, optimalisasi lapangan tua dinilai perlu berjalan beriringan dengan eksplorasi sumber minyak baru. Strategi tersebut penting agar produksi nasional tidak terus bergantung pada wilayah kerja yang telah beroperasi puluhan tahun.
“Kalau dibilang produktif, ya produktif, karena kita butuh crude oil, butuh minyak mentah. Daripada kita impor terus, lebih baik kita mengupayakan minyak yang ada,” katanya.
Komisi XII DPR RI menilai tantangan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah kerja minyak nasional. Beberapa di antaranya adalah Banyu Urip di Blok Cepu dan Blok Rokan.
Karena itu, strategi peningkatan lifting perlu dilakukan melalui dua jalur secara bersamaan. Pemerintah dan pelaku industri didorong mengoptimalkan sumur potensial sekaligus mempercepat eksplorasi cadangan minyak baru.
Pemerintah berharap langkah tersebut dapat memperkuat produksi minyak domestik. Upaya ini juga ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak mentah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....