Kawan Alam Indonesia dan PPI Dunia Perkuat Edukasi Sampah
- 21 Agt 2026 14:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber diselenggarakan di Lakpona Maili Eco-Friendly, Kota Ambon, pada Kamis 20 Agustus 2026 untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
- Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan yang sebelumnya digelar di Ruang Rapat Vlisingen, Kantor Wali Kota Ambon.
- Pelatihan menjadi ruang untuk mendorong pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya dan membangun kolaborasi dalam meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.
RRI.CO.ID, Ambon — Komitmen membangun kesadaran dan pengelolaan lingkungan berkelanjutan diwujudkan melalui Pelatihan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber di Lakpona Maili Eco-Friendly, Jalan Sirimau Bere-Bere, RT 001/RW 05, Kelurahan Batu Meja, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Kamis 20 Agustus 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIT tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong masyarakat memahami pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan yang sebelumnya digelar di Ruang Rapat Vlisingen, Kantor Wali Kota Ambon. Pelatihan tersebut menjadi ruang untuk meneruskan pembahasan mengenai pentingnya kolaborasi dalam membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pelatihan berlangsung di Lakpona Maili Eco-Friendly milik Wutmaili Romuty, peraih Kalpataru kategori Lestari 2026 asal Ambon. Lokasi tersebut selama ini menjadi salah satu ruang edukasi sekaligus praktik pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Kegiatan melibatkan berbagai unsur, antara lain personel Ditsamapta Korsabhara Polda Maluku, PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Kawan Alam Indonesia, KKA Lingkungan Hidup GPM, Angkatan Muda Ranting Anugrah Getsemani, Mama Sadar Lingkungan (Madaling), serta Guru Sadar Lingkungan (Gudarling). Keterlibatan berbagai kelompok tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan partisipasi masyarakat dari berbagai lapisan.
Dari Diskusi Menuju Praktik
Jika pada kegiatan sebelumnya peserta berdiskusi mengenai tantangan lingkungan dan pentingnya kolaborasi, pelatihan di Lakpona Maili Eco-Friendly menjadi ruang untuk menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam praktik. Peserta diajak memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan membuang sampah, tetapi juga bagaimana sampah dipilah dan dikelola sejak dari sumbernya.
Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun gerakan lingkungan yang tidak berhenti pada diskusi. Menurutnya, edukasi mengenai lingkungan harus diarahkan pada tindakan nyata yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Hari ini kita tidak hanya bicara tentang sampah, tetapi mulai belajar bagaimana sampah dikelola dari sumbernya. Perubahan harus dimulai dari rumah, sekolah, gereja, komunitas, dan lingkungan terdekat,” ujarnya.
Wanda mengatakan pengelolaan sampah berbasis sumber penting karena persoalan sampah akan lebih mudah ditangani apabila masyarakat mulai memilah dan mengelolanya sejak dari tempat sampah dihasilkan. Ia juga menilai keterlibatan Mama Sadar Lingkungan, Guru Sadar Lingkungan, pemuda, komunitas gereja, dan aparat kepolisian menjadi kekuatan penting untuk memperluas pesan sadar lingkungan di tengah masyarakat.
Aurelia: Edukasi Harus Dekat dengan Masyarakat
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Aranti Vinton, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan. Menurut dia, proses edukasi perlu dilakukan dengan hadir langsung di tengah masyarakat agar pengetahuan dapat diterapkan secara nyata.
“Pengabdian masyarakat tidak cukup hanya dengan memberikan informasi. Kita harus hadir, belajar bersama masyarakat, dan melihat bagaimana sebuah pengetahuan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Aurelia menilai pengelolaan sampah berbasis sumber merupakan langkah sederhana yang penting untuk dimulai bersama. Menurutnya, perubahan akan lebih mudah terjadi ketika masyarakat tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses belajar dan praktik.
Ia juga menilai keterlibatan guru, ibu-ibu, pemuda, dan komunitas keagamaan memiliki posisi strategis karena kelompok tersebut berinteraksi langsung dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Peran tersebut dapat membantu memperluas edukasi lingkungan melalui keluarga, sekolah, komunitas, dan rumah ibadah.
“Ketika guru berbicara tentang lingkungan di sekolah, mama-mama menerapkannya di rumah, pemuda menggerakkannya di komunitas, dan lembaga keagamaan ikut mengedukasi jemaat, maka pesan lingkungan akan jauh lebih kuat,” ujarnya.
Pak Uce: Sampah Harus Menjadi Tanggung Jawab Bersama
Pemilik Lakpona Maili Eco-Friendly sekaligus pegiat lingkungan dan peraih Kalpataru kategori Lestari 2026, Wutmaili Romuty atau yang akrab disapa Pak Uce, membagikan pengalaman dan praktik pengelolaan lingkungan kepada peserta. Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir dalam melihat sampah sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....