Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Menguat ke Posisi Rp17694 per Dolar AS

  • 21 Agt 2026 21:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,30 persen atau 54 poin ke posisi Rp17.694 per dolar AS
  • Rupiah menguat karena mata uang dolar AS yang sedang melemah yang dipicu aksi jual aset berdenominasi dolar AS
  • Di dalam negeri, sentimen pasar diperngaruhi oleh rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) oleh Bank Indonesia

RRI.CO.ID, Jakarta – Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berlanjut hingga penutupan perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,30 persen atau 54 poin ke posisi Rp17.694 per dolar AS.

Rupiah menguat karena mata uang dolar AS yang sedang melemah yang dipicu aksi jual aset berdenominasi dolar AS. Aksi jual dilakukan karena anggaran negara AS yang mengalami pelebaran defisit.

“Departemen Keuangan AS pekan ini mengumumkan akan melipatgandakan pembelian kembali (buyback) surat berharga negara (US Treasury). Khususnya yang berjangka waktu lebih panjang, nilainya mencapai USD4 miliar per operasi selama kuartal mendatang,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kebijakan buyback menurunkan imbal hasil jangka panjang. Pemerintah AS menyatakan tingkat imbal hasil saat ini, tidak mencerminkan fundamental ekonomi yang sebenarnya.

Sementara itu, angka klaim tunjungan penganguran secara mingguan tercatat menurun. Hal itu mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja tetap relatif stabil.

“The Fed tetap fokus pada upaya pengendalian inflasi di tengah perdebatan pasar mengenai kebijakan suku bunga berikutnya. Situasi geopolitik yang masih tidak menentu, juga ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang,” ujar Ibrahim.

Di dalam negeri, sentimen pasar diperngaruhi oleh rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) oleh Bank Indonesia. Berdasarkan laporan NPI, transaksi berjalan mengalami defisit USD12,5 miliar pada triwulan II 2026 atau 3,3 persen terhadap PDB.

Transaksi berjalan defisitnya lebih tinggi dari perkiraan, siebabkan oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Pada kuartal sebelumnya defisit transaksi berjalan hanya sebesar USF3,6 miliar atau 1 persen dari PDB.

Sementara itu, pada Juli 2026, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 13,58 persen di bulan Juli 2026. Pertumbuhannya meningkat dibandingkan pada bulan Juni sebesar 12,67 persen secara tahunan.

“Pertumbuhan kredit bulan Juli tetap solid meskipun dunia usaha mengurangi aktivitas peminjaman di tengah ketidakpastian global,” ucap Ibrahim. Kinerja kredit perbankan yang positif didorong oleh insentif likuiditas, rasio kecukupan modal atau CAR perbankan yang tinggi sekira 23,70 persen.

Rasio kredit bermasalah atau NPL tetap terjaga rendah di kisaran 2,09 persen bruto. Selain itu, BI juga tetap menerakan kebijakan makroprudensial yang akomodatif

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....