Cerita Kombes Pol Jerrold Pimpin Upacara Penurunan Bendera di Istana

  • 21 Agt 2026 05:08 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kombes Pol Jerrold Hendra Yosef Kumontoy mengungkapkan perasaan haru, syukur, dan bangga usai sukses menjalankan tugas sebagai Komandan Upacara Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Istana Merdeka. Kombes Pol Jerrold sendiri bercerita dirinya telah melalui serangkaian tahapan seleksi yang ketat dan panjang sejak Mei.

Bagi Jerrold, amanah ini merupakan sebuah kehormatan besar. Tidak berhenti disitu, ia meyakini bahwa ini bentuk kepercayaan tinggi yang diberikan oleh pimpinan untuk diembannya hingga tuntas.

"Yang pertama kali kami rasakan adalah rasa syukur, rasa bangga, karena tentunya ini merupakan satu tugas amanah kehormatan yang harus kami laksanakan dengan sebaik-baiknya sampai tuntas. Selain rasa syukur dan bangga, kami juga memberi keyakinan kepada diri sendiri bahwa penunjukan ini adalah amanah yang harus kami lakukan dengan sebaik-baiknya," katanya saat diwawancarai RRI.co.id, Kamis, 21 Agustus 2026.

Perjalanan Jerrold untuk menjadi komandan upacara diawali dari surat perintah Mabes Polri yang membuka pendaftaran bagi perwira menengah berpangkat Kombes dari angkatan 2003 hingga 2005. Setelah mendapat restu dari Kapolda Kaltim, ia mengikuti berbagai tahapan tes di Jakarta.

Ia menjalankan tahapan mulai dari pemeriksaan kesehatan, psikologi, hingga uji tata upacara bendera. Seleksi dilanjutkan di tingkat pusat oleh Garnisun Tetap (Gartap) 1 Jakarta bersama calon perwakilan dari tiga matra TNI (Darat, Laut, dan Udara) hingga akhirnya tersaring perwakilan dari Kepolisian pada akhir Juli.

"Berawal dari adanya surat perintah dari Mabes sekitar bulan Mei, kami mendaftar di Polda Kaltim dengan meminta restu Kapolda. Setelah itu, kami mengikuti rangkaian tes di Jakarta mulai dari tes kesehatan, tes psikologi, dan tata upacara," kata dia.

"Pada pertengahan Juni kami dipanggil empat orang dari Kepolisian untuk seleksi tingkat pusat oleh Gartap 1 Jakarta bersama tiga matra TNI. Akhir Juli diumumkan siapa yang dipilih sebagai calon komandan upacara."

Selama masa pemusatan latihan dan karantina, Jerrold harus menghadapi berbagai tantangan dinamis. Di mana ia juga harus tetap profesional menjalankan tugas utamanya sebagai Kapolresta Balikpapan dalam menjaga kondusifitas wilayah Kamtibmas dan pelayanan masyarakat.

Tantangan tersebut berhasil diatasi melalui manajemen waktu yang baik serta koordinasi bersama Wakapolresta dan dukungan penuh Kapolda. "Tantangannya ini yaitu kami masih dalam kondisi di sela-sela tugas, apalagi saya sebagai seorang Kapolresta," ucap dia.

"Di sela-sela tugas juga harus profesional menyelenggarakan tugas pokok Kepolisian, pelayanan masyarakat, dan memastikan wilayah Kamtibmas kondusif. Terus tantangan berikutnya tentunya adalah menjaga kondisi suara, karena suara salah satu faktor penentu."

Suasana di Istana Merdeka pada hari H memberikan tekanan tersendiri yang berbeda dengan saat gladi bersih. Kehadiran ribuan penonton dan tamu undangan menuntut tingkat fokus dan percaya diri yang tinggi.

Untuk mengatasi potensi kesalahan, Jerrold memilih untuk mengelola perasaannya menjadi sikap 'waspada'. Sepenuhnya ia memusatkan pandangan pada tangga mimbar Presiden dan tiang bendera.

"Kalau awalnya gladi hanya disaksikan oleh staf kepresidenan dan Setmilpres, kalau ini kita melihat audiens masyarakat dengan jumlah yang sangat banyak. Yang pasti bukan gugup dan bukan panik, tapi lebih ke waspada," kata dia.

"Waspada itu perasaan untuk mengontrol kita supaya tidak terlalu percaya diri berlebihan yang malah bisa membuat trouble atau salah. Selama berdiri menghadap mimbar, yang saya lihat tuh hanya tangga dan Bapak Presiden, apabila menghadap ke bendera, saya hanya menghadap ke tiang bendera."

Ia nercerita dukungan penuh dari keluarga terdekat, khususnya istri dan anak-anak yang turut hadir memberikan dorongan moral yang sangat berarti selama prosesi berlangsung. Jerrold juga menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas apresiasi yang diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia usai seluruh rangkaian acara berjalan dengan lancar, tertib, dan khidmat.

"Kehadiran keluarga ini adalah sumber support system yang sangat luar biasa. Istri dan anak-anak sangat senang," ucapnya.

"Sejauh ini Bapak Presiden bangga terhadap seluruh perangkat upacara. Beliau merasa senang sebagaimana beliau bilang melaksanakan dengan lancar, tertib, dan khidmat."

Apresiasi ini, kata dia, merupakan suatu kebanggaan tersendiri. "Sebagai prajurit, kita patuh dan loyal kepada pimpinan," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....