Pulihkan Mental Anak Korban Gempa NTT, Trauma Healing Digelar di Posko Pengungsian

  • 19 Agt 2026 11:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Di tengah kondisi pengungsian, pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak.
  • BNPB mengatakan, pemulihan kondisi masyarakat setelah bencana tidak cukup dengan menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Kondisi psikologis serta kehidupan sosial para pengungsi, khususnya anak-anak
  • Anak-anak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan emosi mereka. Hal ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan serta mengurangi kecemasan dan tekanan akibat situasi bencana

RRI.CO.ID, Jakarta - Penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di NTT tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar. Di tengah kondisi pengungsian, pemerintah bersama berbagai unsur masyarakat juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anak.

Dalam memulihkan psikologi anak-anak di NTT, pemerintah melakukan kegiatan trauma healing dan perpustakaan keliling. Kegiatan tersebut dilaksanakan di posko pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, NTT.

Program pemerintah ini, menjadi bagian dari upaya membantu anak-anak tetap menjalani aktivitas yang sesuai dengan usia. Sekaligus, mewujudkan kebutuhan mereka selama berada jauh dari rumah.

BNPB mengatakan, pemulihan kondisi masyarakat setelah bencana tidak cukup dengan menyediakan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya. Kondisi psikologis serta kehidupan sosial para pengungsi, khususnya anak-anak, juga perlu mendapat perhatian.

“Kehadiran perpustakaan keliling dan trauma healing di GOR Samador menunjukkan penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik. Tetapi juga, memperhatikan kondisi psikologis dan sosial masyarakat terdampak," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam keterangan persnya, di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Dalam kegiatan trauma healing, ia menjelaskan, anak-anak diajak berinteraksi secara langsung dengan para pendamping. Anak-anak tersebut, mengikuti berbagai aktivitas yang dirancang agar suasana di lokasi pengungsian menjadi lebih menyenangkan.

Sejumlah kegiatan yang dilakukan pemerintah, dikemas dalam bentuk permainan edukatif dan aktivitas kelompok. Anak-anak juga diajak bercerita, bernyanyi, bermain bersama, serta melakukan berbagai kegiatan interaktif.

Pendekatan tersebut dilakukan untuk membantu anak menghadapi tekanan psikologis setelah mengalami situasi bencana. Melalui aktivitas yang menyenangkan, anak-anak diharapkan dapat mengurangi rasa cemas.

"Anak-anak memiliki ruang yang aman untuk mengekspresikan emosi mereka. Hal ini dilakukan untuk membantu anak-anak mengekspresikan perasaan serta mengurangi kecemasan dan tekanan akibat situasi bencana," ucap Berton.

Selain trauma healing, anak-anak yang berada di pengungsian juga mendapatkan akses terhadap perpustakaan keliling. Fasilitas tersebut, memberikan kesempatan kepada mereka untuk membaca, belajar, dan tetap melakukan aktivitas positif selama menjalani kehidupan di posko pengungsian.

Keberadaan perpustakaan keliling juga menjadi salah satu cara untuk menjaga agar aktivitas belajar anak tidak sepenuhnya terhenti akibat bencana. Layanan tersebut mendapat dukungan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Sikka.

Kegiatan membaca dan bermain di tengah suasana pengungsian diharapkan dapat memberikan ruang bagi anak-anak untuk menjalani rutinitas yang lebih normal. Aktivitas tersebut, dapat menjadi sarana bagi mereka untuk mengalihkan perhatian sejenak dari situasi bencana yang sedang dihadapi.

BNPB berharap, dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak dapat terus dilakukan selama warga masih berada di pengungsian. Kolaborasi antara pemerintah, pemerintah daerah, relawan, dan berbagai unsur masyarakat dinilai penting untuk memastikan kebutuhan kelompok rentan tetap mendapat perhatian.

Menurut Berton, anak-anak merupakan salah satu kelompok yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses pemulihan pascabencana. “Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemulihan masyarakat terdampak bencana, terutama kelompok rentan seperti anak-anak," ujar Berton.

Penanganan seperti trauma healing dan perpustakaan keliling menunjukkan bahwa proses pemulihan korban gempa NTT dilakukan dari berbagai sisi. Pemerintah dan pihak terkait juga berupaya membantu warga, terutama anak-anak, agar dapat kembali beraktivitas dan bangkit setelah bencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....