BRIN: Tantangan Pendidikan Indonesia Kini Bergeser ke Peningkatan Kualitas
- 17 Agt 2026 19:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah Indonesia meluncurkan program pendidikan komprehensif pada 2026 untuk meningkatkan akses dan kualitas pembelajaran setelah 81 tahun kemerdekaan.
- Program strategis mencakup empat pilar utama: revitalisasi sekolah, peningkatan kualitas tenaga pendidik, digitalisasi pembelajaran, dan pemerataan akses pendidikan.
- Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menekankan bahwa tantangan pendidikan saat ini melibatkan perluasan akses sekaligus peningkatan kualitas pembelajaran.
RRI.CO.ID, Jakarta – Setelah 81 tahun merdeka, pemerintah terus meningkatkan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Tantangan pendidikan kini mencakup perluasan akses sekaligus peningkatan kualitas pembelajaran.
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan Kemenko PMK, Ojat Darojat, menyebut sejumlah program pendidikan dijalankan pemerintah pada 2026. Program itu mencakup revitalisasi sekolah, peningkatan kualitas tenaga pendidik, digitalisasi pembelajaran, dan pemerataan akses pendidikan.
“Pemerintah telah menetapkan target revitalisasi pada tahun 2026 dengan jumlah 80.282 sekolah. Baik di bawah Kemendikdasmen maupun Kemenag, dulu tahun 2025 sekitar 60 ribu, sekarang ditambah menjadi 80 ribuan,” kata Ojat saat berbincang dengan PRO 3 RRI pada Senin, 17 Agustus 2026.
“Ini sangat penting karena program besar ini tidak boleh berhenti hanya pada serah terima gedung dan sarana pendukungnya. Tapi pokok utama kita adalah terciptanya lompatan kualitas pembelajaran di jenjang persekolahan,” ujarnya.
Ojat menyampaikan bahwa pemerintah telah mendata sekitar 190 ribu anak yang belum bisa bersekolah. Data anak-anak tersebut diperoleh dari berbagai daerah sebagai dasar upaya agar mereka bisa kembali mendapatkan akses pendidikan.
Pemerintah menemukan beberapa faktor yang membuat anak tidak bersekolah, seperti keadaan ekonomi, jarak perjalanan, budaya, dan keterbatasan infrastruktur. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah kemudian membangun Sekolah Rakyat dan memberikan dukungan pendidikan bagi keluarga yang kurang mampu.
Ketua Kelompok Riset Asesmen dan Pembelajaran Pusat Riset Pendidikan BRIN, Dr. Syahrul Ramadhan, menilai tantangan pendidikan kini bergeser. Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya memastikan anak bersekolah, tetapi juga memastikan kualitas pembelajaran mereka.
“Kesesuaian antara pendidikan yang sekarang sedang dilakukan dengan perkembangan zaman di abad ke-21 yang fokus melawan buta aksara. Tapi sekarang, ada literasi baru yang harus ditanamkan ke anak misalnya literasi digital, data, atau kecerdasan artifisial,” ucap Syahrul.
“Anak Indonesia jangan hanya mengonsumsi teknologi mereka harus kita persiapkan agar mampu memahami, mengkritisi, bahkan menciptakan teknologi. Sehingga lebih relevan dengan kebutuhan di abad ke-21 dan hasil belajar kemudian terserap dan bisa bermanfaat di masyarakat,” ujar Syahrul.
Menurutnya, capaian pembelajaran siswa Indonesia masih perlu ditingkatkan. Ia merujuk data PISA yang mengindikasikan kemampuan numerasi dan literasi Indonesia, masih memiliki posisi rendah dibandingkan rata-rata OECD. (Shafira Nursyifa)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....