Pendamping Mensos: Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Tak Berhenti di Sekolah
- 15 Agt 2026 15:37 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pendidikan anak berkebutuhan khusus perlu berlanjut setelah pendidikan formal
- Pendidikan lanjutan diarahkan untuk membangun kemandirian dan kepercayaan diri
- LSBA menyesuaikan pembelajaran dengan potensi dan kebutuhan setiap peserta
- Peserta mendapat keterampilan vokasional, komunikasi, sosial, dan kewirausahaan
- Pengalaman kerja dan akses pasar membantu peserta beradaptasi di masyarakat
RRI.CO.ID, Bekasi - Pendamping Menteri Sosial (Mensos) Fatma Saifullah Yusuf mengatakan pendidikan anak berkebutuhan khusus tidak berhenti setelah pendidikan formal. Hal itu disampaikan saat menghadiri pembukaan London School Beyond Academy (LSBA) di LSPR Transpark Bekasi, Sabtu 15 Agustus 2026.
Menurut Fatma, anak berkebutuhan khusus perlu mendapat bekal untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan formal. Bekal tersebut diperlukan agar mereka dapat hidup lebih mandiri dan diterima masyarakat.
“Setelah pendidikan formal kita harus menyiapkan anak-anak kita untuk bisa menjadi anak-anak yang lebih mandiri. Lebih bermartabat dan bisa diterima di masyarakat,” ujar Fatma.
Fatma menilai kebutuhan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus terus berkembang. Menurutnya, pendidikan lanjutan menjadi bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan mereka.
Ia berharap LSBA dapat menjadi salah satu tempat bagi keluarga mendapatkan pendidikan yang sesuai kebutuhan anak. Fatma juga berharap pendidikan tersebut dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Direktur LSBA, Associate Professor Dr. Chrisdina, mengatakan setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan pengembangan berbeda. Karena itu, pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.
“Pembelajaran di LSBA menekankan praktik langsung. Dengan program yang disesuaikan dengan kemampuan peserta,” ujar Chrisdina.
Chrisdina mengatakan peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan vokasional. Mereka juga dilatih kemampuan komunikasi, sosial, disiplin, tanggung jawab, dan kepercayaan diri.
Pembelajaran mencakup tata boga, kriya, administrasi perkantoran, serta digital desain dan cetak. Peserta juga mendapat pengalaman melalui pelatihan kerja sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Founder dan CEO LSPR Institute, Dr. (H.C.) Prita Kemal Gani, mengatakan pengalaman langsung penting untuk membangun keberanian anak berkebutuhan khusus. Menurutnya, peserta perlu dibiasakan menghadapi lingkungan dan orang baru.
“Job training ini penting sekali. Anak-anak bisa berjumpa dengan banyak orang dan belajar keluar dari comfort zone,” ujar Prita.
Prita mengatakan pengalaman tersebut membantu peserta belajar berkomunikasi dan menjalankan tanggung jawab. Mereka juga belajar beradaptasi dengan lingkungan yang sebelumnya belum terbiasa dihadapi.
Selain keterampilan kerja, peserta mendapat pembelajaran kewirausahaan. Mereka dapat belajar membuat dan menjual hasil karya sesuai kemampuan masing-masing.
Prita mencontohkan peserta yang belajar membuat dan menjual roti di lingkungan Kementerian Sosial. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman untuk melatih kemampuan melayani dan berinteraksi.
Sementara itu, Pendamping Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Shinta Maruarar Sirait, menilai hasil karya anak berkebutuhan khusus perlu mendapat akses pasar. Menurutnya, pengalaman menjual karya secara profesional dapat membangun kepercayaan diri.
Shinta mengatakan anak berkebutuhan khusus perlu mendapat kesempatan menunjukkan kemampuan di tengah masyarakat. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses menuju kemandirian.
Pembukaan LSBA Bekasi menjadi salah satu upaya memperluas pendidikan vokasional bagi anak berkebutuhan khusus. Pendidikan tersebut diarahkan untuk membantu mereka mengembangkan keterampilan dan mempersiapkan kehidupan yang lebih mandiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....