Opu Daeng Risaju, Sosok Perempuan Pertama Pimpin Partai Politik Islam Indonesia

  • 15 Agt 2026 14:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin partai politik berasaskan Islam, yakni Partai Syarikat Islam Indonesia
  • Opu Daeng Risaju dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2006 setelah wafat di Parepare pada 10 Februari 1964
  • Opu Daeng Risaju merupakan pejuang perempuan asal Luwu yang aktif melawan penjajahan melalui perjuangan politik dan keagamaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Opu Daeng Risaju merupakan pejuang perempuan asal Luwu yang aktif melawan penjajahan melalui perjuangan politik dan keagamaan. Ia tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin partai politik berasaskan Islam, yakni Partai Syarikat Islam Indonesia.

Dilansir dari laman resmi Dinas Kebudayaan Yogyakarta, Opu Daeng Risaju lahir di Palopo, Luwu, pada 1880. Nama lahirnya Famajjah, putri Muhammad Abdullah To Bareseng dan Opu Daeng Mawellu yang berasal dari keluarga bangsawan.

Opu Daeng Mawellu merupakan cicit Raja Bone ke-22, La Temmasonge Matimoeri Malimongeng, yang memerintah pada 1749 hingga 1775. Gelar Opu dalam masyarakat Luwu merupakan titulatur kebangsawanan yang diberikan setelah seseorang menikah dan memiliki kedudukan terhormat.

Sejak kecil, Opu Daeng Risaju tidak mengikuti pendidikan formal dan lebih banyak memperoleh pembelajaran agama dari pengasuhnya. Ia belajar membaca Al-Qur'an hingga tamat 30 juz, kemudian mempelajari fikih, nahwu, saraf, dan balaghah dari ulama.

Pengetahuan agama Opu Daeng Risaju berkembang meskipun pendidikan umumnya terbatas akibat pandangan masyarakat ketika itu terhadap pendidikan perempuan. Setelah dewasa, ia menikah dengan ulama Bone bernama Haji Muhammad Daud yang pernah bermukim di Mekkah.

Pernikahan tersebut membuatnya memperoleh gelar Opu Daeng Risaju sesuai tradisi masyarakat Luwu terhadap perempuan dari kalangan bangsawan. Suaminya kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu karena memiliki pengetahuan agama dan menikahi keluarga bangsawan.

Pada 1905, Belanda melakukan ekspedisi terhadap kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk Kerajaan Luwu yang kemudian menghadapi tekanan penjajahan. Opu Daeng Risaju bersama suaminya meninggalkan Palopo dan menetap di Parepare sebelum aktif dalam organisasi PSII (PSII).

Pada 1927, Opu Daeng Risaju mulai aktif dalam PSII cabang Parepare, organisasi politik yang bergerak menentang penjajahan. Keaktifannya memberikan pengalaman perjuangan hingga dirinya tercatat sebagai perempuan pertama yang memimpin partai politik Islam Indonesia.

Perjuangan Opu Daeng Risaju dalam menyebarkan ajaran Islam di Tanah Luwu menghadapi berbagai kendala dari Belanda dan keluarganya. Tekanan tersebut tidak menghentikan perjuangannya membangun PSII hingga Belanda menangkap dirinya bersama para pengikutnya.

Setelah menjalani masa tahanan, dukungan datang dari berbagai utusan yang memintanya mendirikan ranting PSII di wilayah Tanah Luwu. Opu Daeng Risaju dan suaminya kemudian dibawa ke Palopo melalui jalur laut dengan pengawalan ketat serta tangan diborgol.

Pemborgolan terhadap Opu Daeng Risaju dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap bangsawan dan keluarganya sehingga mendapat protes Pemangku Adat Luwu. Meski mendapat tekanan dari Kerajaan Luwu dan pemerintah kolonial Belanda, Opu Daeng Risaju tetap melanjutkan aktivitas perjuangannya.

Opu Daeng Risaju pernah mendapat hukuman dari Belanda dan Ketua Distrik Bajo dengan berlari mengelilingi lapangan. Hukuman tersebut disertai letusan senapan di dekat tubuhnya hingga menyebabkan gendang telinganya pecah dan tuli seumur hidup.

Setelah Indonesia merdeka, Opu Daeng Risaju hidup bersama anaknya di Parepare hingga wafat pada 10 Februari 1964. Jenazahnya dimakamkan di kompleks makam raja-raja Lakkoe, Palopo, sebelum dirinya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2006.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....