Wamen Viva Yoga: Transmigrasi Dorong Integrasi Sosial

  • 15 Agt 2026 13:14 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Transmigrasi dorong integrasi sosial antara transmigran dan masyarakat lokal
  • 61 bupati seluruh Indonesia mengajukan proposal pembukaan kawasan transmigrasi baru
  • Transmigrasi membuka wilayah terisolasi dan mengembangkan potensi ekonomi
  • Kementerian Transmigrasi bekerja sama dengan 10 perguruan tinggi unggulan

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi menyatakan, Kementerian Transmigrasi (Kementrans) memiliki beragam tanggung jawab, dalam menjalankan program transmigrasi. Tidak hanya kepada kawasan dan transmigran, melainkan pada pemberdayaan masyarakat, agar terjalin integrasi sosial transmigran dan masyarakat setempat.

“Saya beberapa waktu lalu menerima Walikota Subulussalam, Aceh, yang menceritakan di sana antara transmigran dan warga lokal hidup rukun dan harmonis”, ujar Viva Yoga di Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026.

Integrasi di kawasan transmigrasi juga menjadi salah satu keyakinan para bupati, untuk mengajukan usulan pembukaan kawasan transmigrasi. ”Ada 61 proposal dari para bupati, yang ingin di kabupatennya dibuka kawasan baru transmigrasi”, ujarnya.

Viva Yoga menambahkan, daerah telah merasakan manfaat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang sangat besar dari program transmigrasi. Hadirnya kawasan baru membuat wilayah yang sebelumnya tak berpenghuni, menjadi terbuka dan tergali potensi-potensi komoditas unggulan.

“Ada kawasan transmigrasi yang potensi unggulannya berupa padi, sawit, kakao, durian, cengkih, kopi, tebu, sampai sektor perikanan dan pariwisata. Potensi unggulan itu, tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan nasional, bahkan juga sudah ada yang diekspor”, ujarnya.

Dalam menggali potensi unggulan, Kementrans juga bekerja sama dengan 10 perguruan tinggi unggulan. Antara lain Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, dan Universitas Diponegoro.

Selain itu ada Universitas Airlangga, Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), hingga Universitas Brawijaya. Sementara di luar pulau Jawa, kerja sama dilakukan dengan Universitas Hasanuddin.

Buah dari kerja sama itu ujar Viva Yoga, menghasilkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026, dengan anggota 1.476 orang. Dari jumlah tersebut, 39 guru besar, 158 doktor, 263 magister, dan 1.016 sarjana dikirim ke 53 kawasan transmigrasi.

”Tim ini mempunyai misi untuk merealisasikan hasil dari riset TEP 2025. Jadi beragam potensi unggulan yang ada di daerah, akan mereka tindaklanjuti dalam bentuk model, prototype, maupun kerja praktis”, katanya.

Langkah nyata inilah menurut Viva Yoga, yang akan membuka peluang terjadinya industrialisasi di kawasan transmigrasi dalam berbagai skala. Menurutnya, program tersebut akan memunculkan kawasan baru pertumbuhan ekonomi.

“Kawasan baru ini tidak hanya menciptakan kesejahteraan masyarakat, namun juga menciptakan lapangan kerja”, ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....