RI Kejar Swasembada Daging Sapi, Fahira Idris Sampaikan 6 Rekomendasi
- 14 Agt 2026 16:34 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut positif komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan agenda swasembada pangan, termasuk mengejar swasembada daging sapi.
- Menurut Fahira, swasembada daging sapi menjadi tantangan besar yang perlu dijawab dengan kebijakan yang konsisten dan terukur.
- Fahira menilai persoalan peternakan sapi nasional tidak hanya menyangkut jumlah ternak.
RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta Fahira Idris menyambut positif komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan agenda swasembada pangan. Termasuk mengejar swasembada daging sapi.
Komitmen tersebut disampaikan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Prabowo pada Sidang Tahunan MPR RI. Serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026.
Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis. Yakni, beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Fahira menilai capaian tersebut patut diapresiasi. Namun, menurutnya, swasembada daging sapi menjadi tantangan besar yang perlu dijawab dengan kebijakan yang konsisten dan terukur.
“Capaian delapan komoditas patut kita syukuri dan apresiasi. Berikutnya, swasembada daging sapi memang menjadi tantangan besar yang harus kita jawab," kata Fahira seusai mengikuti sidang di Kompleks Parlemen.
"Jika berhasil, dampaknya bukan hanya mengurangi ketergantungan impor. Tetapi juga memperkuat peternakan rakyat, ekonomi daerah, dan ketersediaan protein bagi masyarakat,” katanya menambahkan.
Menurut Fahira, Indonesia telah beberapa kali mencanangkan target swasembada daging sapi dalam dua dekade terakhir. Pengalaman tersebut, kata dia, harus menjadi pembelajaran agar target kali ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun fondasi peternakan nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Karena itu, Fahira menyampaikan enam rekomendasi. Pertama, menyusun peta jalan swasembada sapi yang terukur dan transparan.
Pemerintah perlu menetapkan target tahunan terkait penambahan populasi sapi, kelahiran pedet, produksi daging, kebutuhan indukan, pengurangan impor. Hingga peningkatan produktivitas peternak.
“Target besar harus diterjemahkan menjadi target tahunan yang bisa diukur dan dievaluasi. Kita harus tahu setiap tahun populasi bertambah berapa, produksi naik berapa, dan ketergantungan impor turun berapa,” ujarnya.
Kedua, menjadikan peternak rakyat sebagai aktor utama swasembada. Fahira menilai persoalan peternakan sapi nasional tidak hanya menyangkut jumlah ternak, tetapi juga skala usaha yang kecil, mahalnya pakan, akses permodalan, kepastian harga, dan lemahnya posisi tawar peternak.
Menurutnya, penguatan koperasi peternak, akses pembiayaan, penyediaan pakan terjangkau, pendampingan usaha, kemitraan. Serta kepastian pasar harus berjalan beriringan dengan peningkatan populasi sapi.
Ketiga, mempercepat pembibitan dan kelahiran sapi dalam negeri. Program inseminasi buatan, transfer embrio, penyediaan semen dan bibit berkualitas, perlindungan sapi betina produktif. Serta upaya menekan kematian pedet perlu diperluas dengan standar kualitas dan pendampingan yang kuat.
Keempat, menjadikan kesehatan hewan sebagai fondasi swasembada. Fahira menilai pengalaman wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menunjukkan peningkatan populasi ternak dapat terganggu ketika sistem kesehatan hewan tidak cukup kuat.
Karena itu, vaksinasi, biosekuriti, surveilans penyakit, penguatan laboratorium veteriner, ketersediaan tenaga dokter hewan, pengawasan lalu lintas ternak. Serta sistem respons cepat terhadap wabah harus menjadi bagian inti strategi swasembada.
Kelima, membangun swasembada berbasis kekuatan dan kolaborasi daerah. Fahira menilai strategi peternakan tidak bisa menggunakan satu model yang sama untuk seluruh wilayah Indonesia.
Pemerintah, kata dia, perlu memetakan daerah pembibitan, penggemukan, sumber pakan, sentra produksi, daerah konsumsi. Hingga infrastruktur rumah potong hewan dan rantai dingin.
“Swasembada nasional harus dibangun dari kekuatan daerah. Pemerintah pusat menetapkan arah dan standar, tetapi daerah harus diberi ruang menyusun model sesuai potensi lokalnya. Jangan semua daerah dipaksa menggunakan resep yang sama,” ujar Senator Jakarta itu.
Keenam, mengarahkan investasi untuk memperbesar kapasitas produksi nasional sekaligus memperkuat peternak lokal. Fahira mendukung keterlibatan BUMN, Danantara, swasta, maupun investasi asing dalam mempercepat peningkatan populasi dan modernisasi peternakan.
Namun, ia menekankan investasi harus membangun ekosistem peternakan dalam negeri. Mulai dari pembibitan, pakan, teknologi, kesehatan hewan, penggemukan, rumah potong hewan, rantai dingin, hingga pengolahan.
“Investasi harus menciptakan kapasitas baru di dalam negeri dan menggandeng peternak rakyat, bukan menggusurnya. Yang kita bangun bukan sekadar peternakan besar, tetapi ekosistem peternakan Indonesia yang kuat dari hulu sampai hilir,” ucapnya.
Fahira menegaskan keberhasilan swasembada daging sapi pada akhirnya harus terlihat dari tiga indikator utama. Yakni, ketergantungan terhadap impor semakin rendah, daging sapi semakin mudah dijangkau masyarakat, dan kesejahteraan peternak semakin meningkat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....