Peserta Sespimmen Polri Dorong Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga

  • 14 Agt 2026 17:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Peserta Didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg 67 (Poklat 7) mendorong ketahanan pangan dan stabilitas harga di daerah
  • Alhasil, mereka menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Mapolres Sumedang

RRI.CO.ID, Jakarta - Peserta Didik (Serdik) Sespimmen Polri Dikreg 67 (Poklat 7) mendorong ketahanan pangan dan stabilitas harga di daerah. Sehingga, mereka menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Mapolres Sumedang.

Kegiatan yang berlangsung interaktif ini turut disambut dan didukung penuh oleh Kapolres Sumedang, AKBP Reza Ma'ruffi. Bahkan, diawasi langsung Brigjen Pol Nurcholis dan disupervisi Kombes Pol Purwanto.

Brigjen Pol Nurcholis mengatakan FGD ini berjalan sukses dan lancar. Melalui FGD ini, Polri berharap, Sumedang dapat segera terwujud dengan hadirnya harga sembako yang stabil, terjangkau dan aman untuk kebutuhan sehari-hari.

"Tak hanya fokus pada stabilisasi harga, FGD juga menggali potensi lokal Sumedang. Pemberdayaan Ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan menjadi salah satu strategi yang didorong untuk mendongkrak pendapatan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah," ujarnya, Jumat 14 Agustus 2026.

Kapolres Sumedang, AKBP Reza Ma'ruffi mengatakan, dari sisi penegakan hukum, kepolisian berkomitmen memperketat pengawasan terhadap gudang-gudang distributor. Langkah preventif ini dinilai krusial untuk mencegah praktik penimbunan yang sering menjadi biang kerok melonjaknya harga sembako dipasaran.

"Menjawab keresahan tersebut, forum merumuskan beberapa solusi nyata. Selain mendorong pendirian pasar induk, inovasi "Bazar Pasar Murah" juga digagas agar masyarakat bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih miring," kata dia.

Diketahui, FGD ini mempertemukan 11 perwira menengah kepolisian dengan berbagai elemen penting daerah. Mulai dari Kasatreskrim Polres Sumedang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Asosiasi Pengelola Pasar hingga tokoh masyarakat setempat.

Diskusi menyoroti dinamika harga pasar yang kerap membebani warga. Salah satu isu utama yang diangkat adalah belum adanya pasar induk di Sumedang.

Akibatnya, para pedagang lokal terpaksa berperan sebagai agen, yang membuat harga jual di tingkat konsumen menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan harga distributor. Tokoh masyarakat yang hadir, H. Sobirin, menyambut baik langkah proaktif ini.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....