Arjan Beberkan Pengaruh Multatuli dalam Menulis Kisah 'Lebak dan Kolonialisme'

  • 14 Agt 2026 12:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gaya Multatuli menginspirasi Arjan dalam membuat buku dengan sudut pandang cerita yang lebih berlapis.
  • Multatuli dinilai bukan anti-kolonial, tetapi menginginkan sistem kolonial yang lebih adil bagi masyarakat.
  • Pengalaman di Lebak membentuk kritik Multatuli, hingga lahir Max Havelaar yang terbit di Belanda pada 1860.

RRI.CO.ID, Jakarta - Penulis Arjan Onderdenwijngaard mengatakan gaya penulisan Multatuli memberi pengaruh besar dalam proses penyusunan bukunya tentang Lebak dan kolonialisme. Menurutnya, Multatuli memiliki cara bercerita tidak linear, sehingga pembaca melihat peristiwa melalui beberapa sudut pandang yang berbeda.

Ia menjelaskan, Multatuli menghadirkan tiga wajah dalam karyanya, termasuk dirinya sendiri sebagai salah satu tokoh utama cerita tersebut. Cara itu kemudian menginspirasi sejumlah penulis Indonesia dan Belanda dalam mengembangkan gaya bercerita yang lebih berlapis dan menarik.

"Multatuli memiliki tiga wajah atau tokoh dalam bukunya, dan salah satunya adalah dirinya sendiri dalam cerita tersebut secara langsung," katanya saat menghadiri peluncuran buku 'After Multatuli Left: Lebak Trapped Between Local Feudalism and Dutch Colonialism', Pusat Kebudayaan Belanda, Jakarta Selatan, Kamis malam, 13 Agustus 2026. Ia menilai teknik tersebut membuat karya Multatuli tetap menarik dibaca karena ceritanya tidak bergerak secara linear dan sederhana.

Ia juga meluruskan anggapan bahwa Multatuli sepenuhnya merupakan tokoh anti-kolonial dalam sejarah hubungan Indonesia dan Belanda modern. Menurut Arjan, Multatuli merupakan orang kolonial yang menginginkan sistem pemerintahan kolonial menjadi lebih baik dan adil bagi masyarakat.

"Multatuli bukan anti-kolonial, tetapi seorang kolonial yang tercerahkan karena berharap sistem kolonial bisa berjalan lebih baik dan adil," ucapnya. Ia mengatakan Multatuli melihat langsung besarnya dampak kolonialisme terhadap rakyat kecil, termasuk masyarakat Lebak pada masa tersebut secara langsung.

Lebih lanjut, ia menyebut pengalaman Multatuli sebagai asisten residen di Lebak memperkuat kritiknya terhadap praktik penguasa. Menurutnya, kisah dalam Max Havelaar berangkat dari fakta, meski beberapa bagian turut dibentuk melalui penggambaran sastra.

Ia mencontohkan kisah Saijah dan Adinda yang menjadi simbol penderitaan rakyat kecil akibat praktik penguasa pada masa tersebut. Ia menjelaskan, Multatuli sempat menyampaikan protes kepada atasannya hingga pemerintah tertinggi, tetapi keluhannya tidak diterima dengan baik.

Setelah itu, Multatuli mengundurkan diri dari pemerintahan dan kembali ke Eropa dalam kondisi ekonomi yang sangat terbatas. "Ia menulis Max Havelaar dalam waktu singkat, sekitar tiga minggu, lalu buku tersebut terbit di Belanda pada 1860," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....