Mentan Jelaskan TNI Bantu Petani tanpa Honor Tambahan
- 13 Agt 2026 10:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan TNI membantu petani tanpa menerima honor tambahan
- Prajurit tetap menerima gaji sebagai anggota TNI, tetapi tidak mendapat bayaran tambahan untuk pekerjaan pertanian
- TNI membantu petani mengolah lahan, mendorong traktor, hingga memasang pompa
- Keterlibatan TNI dilakukan untuk mempercepat respons menghadapi ancaman El Niño ekstrem
- Pemerintah menghadapi kekurangan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan dalam mendampingi petani
RRI.CO.ID, Surabaya – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan prajurit TNI membantu petani tanpa menerima tambahan honor di luar gaji sebagai anggota TNI. Keterlibatan tersebut merupakan bentuk pengabdian untuk mempercepat respons pertanian menghadapi El Niño ekstrem.
Amran menjelaskan prajurit membantu berbagai pekerjaan di lapangan, mulai dari mendorong traktor, mengolah lahan, hingga memasang pompa. Bantuan tersebut dilakukan karena kebutuhan tenaga meningkat saat pemerintah memperkuat produksi pangan menghadapi ancaman kekeringan.
"Ini selalu ditanyakan mahasiswa, wartawan, dan ditanyakan juga di Komisi IV. Inilah membantu siang malam," ujar Amran, Rabu 12 Agustus 2026.
Amran menegaskan tidak ada pembayaran tambahan bagi prajurit yang membantu petani pada Sabtu, Minggu, hari libur, maupun malam hari. Prajurit tetap menerima gaji sebagai anggota TNI, tetapi tidak memperoleh honor tambahan untuk pekerjaan pertanian tersebut.
"Jadi gajinya ada, tapi gaji TNI-nya. Tapi untuk kerja Sabtu, Minggu, hari libur, siang malam, memasang pompa, itu tidak ada," tegasnya.
Menurut Amran, dukungan TNI dibutuhkan karena pemerintah menghadapi tantangan besar dalam menjaga produksi pangan. Kondisi tersebut semakin membutuhkan respons cepat karena ancaman El Niño ekstrem meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.
| Baca juga: Kementan Percepat Upaya Swasembada Gula |
Di sisi lain, jumlah Penyuluh Pertanian Lapangan atau PPL masih belum mencukupi kebutuhan pendampingan petani. Amran menyebut jumlah PPL saat ini sekitar 37 ribu orang, sementara kebutuhan ideal mencapai lebih dari 80 ribu orang.
"PPL kita 37 ribu, kita butuh 80 ribu lebih. Kita kurang sekitar 50 ribu," katanya.
Kekurangan tenaga pendamping tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah membutuhkan dukungan lintas sektor. TNI dinilai memiliki kemampuan mobilisasi yang cepat ketika petani membutuhkan bantuan di lapangan.
"Nah, di saat kondisi El Niño ekstrem seperti sekarang, ke mana kita mau minta tolong dalam waktu sekejap? TNI," ujar Amran.
Amran menegaskan keterlibatan TNI bukan untuk menggantikan peran petani maupun tenaga penyuluh. Prajurit berfungsi sebagai kekuatan pendukung untuk mempercepat penanganan ketika kondisi lapangan membutuhkan mobilisasi.
Ia mengajak masyarakat melihat keterlibatan prajurit dalam membantu petani sebagai bagian dari semangat gotong royong. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan bentuk pengabdian untuk menjaga produksi dan ketahanan pangan nasional.
"Jadi tolong netizen, ini yang membantu kita menjaga pangan. Kita mengabdi, ini kan pengabdian," pungkas Amran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....