ICP Juli 2026 Turun Jadi US$81,68 per Barel, Pasokan Global Mulai Pulih
- 12 Agt 2026 11:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemerintah menetapkan ICP Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel, turun US$1,77 dibandingkan ICP Juni sebesar US$83,45 per barel
- Penurunan harga dipengaruhi meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan pulihnya pasokan minyak dunia, termasuk membaiknya lalu lintas Selat Hormuz
- Pemerintah tetap memantau kondisi geopolitik, pasokan, dan permintaan global untuk menghadapi fluktuasi harga serta menjaga ketahanan energi nasional
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah menetapkan rata-rata Harga Minyak Mentah Indonesia atau ICP Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel. Angka tersebut turun US$1,77 per barel dibandingkan ICP Juni 2026 sebesar US$83,45.
Penurunan ICP terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mulai pulihnya pasokan minyak dunia. Pemerintah menyatakan perkembangan pasar global terus dipantau untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan energi nasional.
Penetapan ICP Juli 2026 tercantum dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 319.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyampaikan penetapan tersebut di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
"Penetapan ICP bulan Juli 2026 sebesar US$81,68 per barel mencerminkan dinamika pasar minyak mentah global yang mengalami penyesuaia. Menyusul meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah serta berangsur pulihnya arus pasokan minyak dunia," kata Laode saat menyampaikan penetapan tersebut di Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.
Sejumlah harga minyak mentah utama dunia juga mengalami penurunan selama Juli 2026 akibat perubahan kondisi pasar internasional. Berikut perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama dunia berdasarkan data yang disampaikan pemerintah.
- ICP Indonesia: turun US$1,77 per barel menjadi US$81,68 per barel.
- Brent ICE: turun US$0,46 per barel menjadi US$83,97 per barel.
- WTI Nymex: turun US$2,57 per barel menjadi US$79,22 per barel.
- Dated Brent: turun US$2,06 per barel menjadi US$83,41 per barel.
- Basket OPEC: turun US$7,00 per barel menjadi US$82,74 per barel pada 30 Juli 2026.
Laode menjelaskan pergerakan harga minyak internasional dipengaruhi kondisi geopolitik, pasokan, serta perkembangan permintaan global. De-eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran, gencatan senjata, serta ruang diplomasi turut mempengaruhi pergerakan harga.
Perbaikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz turut meningkatkan kepercayaan pasar terhadap pemulihan pasokan minyak dunia. Berdasarkan data IEA, pemulihan sementara tersebut mendorong pasokan minyak global naik menjadi 98,8 juta barel per hari.
Kenaikan pasokan tersebut tercatat sebesar 4,1 juta barel per hari pada Juni 2026 berdasarkan pemantauan Badan Energi Internasional. Kondisi tersebut menunjukkan membaiknya arus distribusi minyak dunia setelah sebelumnya terganggu situasi geopolitik kawasan.
Meski demikian, pemerintah masih melihat sejumlah faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak pada periode berikutnya. Faktor tersebut mencakup kemungkinan eskalasi militer terbatas dan perubahan persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Pemerintah akan terus memantau perubahan pasokan, kondisi geopolitik, serta perkembangan pasar minyak internasional secara berkala. Formula ICP juga tetap diterapkan secara transparan untuk mencerminkan dinamika pasar dan menjaga akuntabilitas keuangan negara.
Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi fluktuasi harga minyak sekaligus menjaga stabilitas energi nasional. Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendukung ketahanan energi serta keberlangsungan kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....