Menteri ESDM Pasang Rem Ekspor Bauksit Demi Hilirisasi

  • 08 Agt 2026 00:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Bahlil menegaskan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga tetap diberlakukan untuk memperkuat hilirisasi nasional.
  • Pemerintah mendorong pendanaan hilirisasi melalui Danantara agar manfaat industri lebih besar dirasakan di dalam negeri.
  • Investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II 2026, dengan total investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun.

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tetap mempertahankan larangan ekspor bijih bauksit dan konsentrat tembaga. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Menurutnya, pembangunan industri pengolahan menjadi langkah penting agar Indonesia memperoleh manfaat ekonomi lebih besar. Ia menilai hilirisasi mampu membuka lapangan pekerjaan, memperkuat industri nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

"Untuk ke depan, saya pikir beberapa komoditas yang harus kami tetap pertahankan. Pelarangan ekspornya di antaranya bauksit, kemudian tembaga," katanya saat ditemui wartawan usai acara peluncuran buku '10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia', Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Jumat, 7 Agustus 2026.

Ia menilai penguatan kelembagaan menjadi fondasi penting dalam keberhasilan hilirisasi seperti diterapkan Korea Selatan, Jepang, dan China. Dengan sistem yang kuat, manfaat investasi diharapkan lebih merata hingga ke daerah penghasil sumber daya alam.

"Ini karena bank kita enggak mau membiayai itu (hilirisasi). Alhamdulillah karena Bapak Presiden mengerti tujuan hilirisasi, sekarang yang mengelola dan membiayai hilirisasi adalah Danantara," ujarnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani menyampaikan realisasi investasi hilirisasi bauksit meningkat signifikan sepanjang kuartal kedua tahun 2026. Nilainya mencapai Rp40,1 triliun atau melonjak 193 persen dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar Rp13,7 triliun.

Ia mengatakan peningkatan investasi didorong pembangunan sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit oleh investor domestik maupun asing. "Pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, dan batu bara," ujarnya.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hilirisasi pada kuartal kedua 2026 mencapai Rp152,7 triliun dengan kontribusi hampir tiga puluh persen. Pemerintah berharap tren positif tersebut memperkuat transformasi industri nasional sekaligus mempercepat pertumbuhan ekonomi berbasis hilirisasi berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....