Mengenal Malahayati, Pahlawan Perempuan yang Gugurkan Cornelis de Houtman

  • 05 Agt 2026 19:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Laksamana Malahayati adalah perempuan pertama di dunia yang menyandang pangkat laksamana dan memimpin armada perang.
  • Asal Aceh, Malahayati diakui sebagai pahlawan perempuan Indonesia yang mengukir sejarah melalui kepemimpinan dan keberaniannya di lautan.
  • UNESCO menetapkan hari kelahirannya sebagai perayaan internasional untuk menghormati kontribusinya dalam sejarah maritim dan perjuangan perempuan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Laksamana Malahayati dikenang sebagai salah satu pahlawan perempuan Indonesia yang mengukir sejarah melalui kepemimpinan dan keberaniannya di lautan. Sosok asal Aceh tersebut bahkan menjadi perempuan pertama di dunia yang menyandang pangkat laksamana dan memimpin armada perang.

Pengakuan terhadap jasa Malahayati terus menguat hingga tingkat internasional melalui berbagai upaya pelestarian sejarah. UNESCO juga menetapkan hari kelahirannya sebagai perayaan internasional, mempertegas kontribusinya dalam sejarah maritim dan perjuangan perempuan.

Melansir dari berbagai sumber sejarah, Malahayati lahir dari keluarga bangsawan Kesultanan Aceh yang memiliki tradisi militer kuat. Pendidikan di Akademi Angkatan Laut Mahad Baitul Maqdis membentuk kemampuan strategi dan kepemimpinannya sejak usia muda.

Perjuangan Malahayati semakin menguat setelah suaminya gugur dalam pertempuran melawan armada Portugis di Selat Malaka. Peristiwa tersebut mendorongnya melanjutkan perjuangan sekaligus mengabdikan diri mempertahankan kedaulatan Kesultanan Aceh.

Sebagai panglima, Malahayati membentuk pasukan Inong Balee yang beranggotakan para janda pejuang Aceh. Pasukan perempuan tersebut dilatih menjadi kekuatan militer tangguh sekaligus membangun benteng pertahanan di kawasan pesisir Aceh.

Kepemimpinannya membawa Inong Balee meraih kemenangan dalam berbagai pertempuran menghadapi armada Belanda di perairan Aceh. Malahayati bahkan berhasil menewaskan Cornelis de Houtman dan menangkap Frederick de Houtman sebagai tawanan perang.

Kemampuan Malahayati tidak hanya terlihat di medan perang, tetapi juga dalam urusan diplomasi dan pemerintahan kerajaan. Ia dipercaya mengurus hubungan luar negeri serta menjadi penasehat Sultan Aceh dalam berbagai keputusan strategis.

Atas pertimbangannya, Kesultanan Aceh akhirnya menerima ajakan damai dari Kerajaan Belanda demi menjaga hubungan perdagangan. Perannya juga memperkuat hubungan persahabatan Aceh dengan Inggris, Turki, Jepang, Cina, India, Burma, dan Siam.

Malahayati juga dikenal sebagai pemimpin yang menjunjung tinggi aturan kerajaan meskipun memiliki kekuasaan besar di lingkungan pemerintahan. Ia menolak mendukung perebutan takhta karena meyakini hukum dan keputusan Majelis Kerajaan harus tetap ditegakkan.

Warisan perjuangan Malahayati terus dikenang sebagai simbol keberanian, kepemimpinan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia hingga masa kini. Kiprahnya membuktikan perempuan mampu memimpin, mempertahankan kedaulatan bangsa, sekaligus menjadi inspirasi lintas generasi. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....