Jangan Paksa Tanam Padi, BMKG Keluarkan Peringatan untuk Petani Babel

  • 12 Agt 2026 10:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Karena itu, BMKG mendorong petani mempertimbangkan komoditas pangan yang lebih sesuai dengan kondisi lahan kering.
  • BMKG Kepulauan Bangka Belitung mengingatkan, petani di Babel mempertimbangkan kembali rencana menanam padi pada musim kemarau 2026.
  • Kami sarankan petani untuk menanam tanaman pangan yang tidak membutuhkan air yang banyak. Terutama, selama musim kemarau ini

RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengingatkan, petani mempertimbangkan kembali rencana menanam padi pada musim kemarau 2026. Kondisi kemarau yang diperkirakan lebih kering dan panjang, dinilai dapat meningkatkan risiko tanaman mengalami kekurangan air hingga gagal panen total (puso).

Ketua Tim Data dan Informasi, BMKG Kepulauan Babel, Slamet Supriyadi mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian. Langkah tersebut, dilakukan agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air di wilayah masing-masing.

“Kami sarankan petani untuk menanam tanaman pangan yang tidak membutuhkan air yang banyak. Terutama, selama musim kemarau ini,” kata Slamet dalam keterangan resminya seperti dilansir Antara, dikutip Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurut Slamet, padi membutuhkan ketersediaan air yang relatif tinggi agar bisa panen secara maksimal. Sehingga, penanamannya perlu mempertimbangkan kondisi lahan dan sumber air selama musim kemarau.

Jika petani tetap menanam padi di lahan yang kekurangan air, BMKG mengkhawatirkan, risiko tanaman tidak berkembang optimal. Alhasil, tanaman padi tersebut berpotensi mengalami puso menjadi lebih besar.

Karena itu, BMKG mendorong petani mempertimbangkan komoditas pangan yang lebih sesuai dengan kondisi lahan kering. Beberapa pilihan yang disebut antara lain, jagung dan berbagai jenis kacang-kacangan yang relatif tidak membutuhkan pasokan air sebanyak tanaman padi.

“Kami tidak menyarankan petani untuk menanam tanaman padi. Sebaiknya diganti dengan tanaman yang lebih tepat dan bagus tumbuhnya di daerah kering,” ucap Slamet.

Perubahan pola tanam tersebut, BKMG berharap, dapat menjaga lahan pertanian tetap produktif selama periode kemarau. Di sisi lain, petani juga dapat mengurangi potensi kerugian apabila pasokan air tidak mencukupi hingga memasuki masa panen.

Slamet memperkirakan puncak musim kemarau di Kepulauan Babel akan berlangsung pada September 2026. Kondisi kering tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, sekitar Januari atau Februari.

Fenomena El Nino disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi musim kemarau di wilayah tersebut. Karena itu, BMKG meminta, petani memperhatikan perkembangan informasi cuaca dan iklim sebelum menentukan strategi pertanian.

Sejumlah wilayah di Kepulauan Babel bahkan mulai merasakan dampak kekeringan. Kondisi tersebut ditandai dengan munculnya kebutuhan distribusi air bersih bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh pasokan air.

Salah satu langkah penanganan telah dilakukan BPBD Kota Pangkalpinang, dengan menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan. Kondisi tersebut, menjadi gambaran bahwa ketersediaan air perlu mendapat perhatian ketika periode kemarau semakin panjang.

BMKG menilai informasi mengenai kondisi iklim perlu disampaikan lebih awal agar sektor pertanian dapat melakukan langkah antisipasi. Penyesuaian jenis tanaman menjadi salah satu strategi yang dapat dipertimbangkan untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus menekan risiko gagal panen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....