BMKG Waspadai Hujan Lebat, Sebaliknya Sumsel Berpotensi Hadapi Kekeringan
- 12 Agt 2026 08:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG mengingatkan, masyarakat mewaspadai potensi hujan intensitas ringan hingga lebat disertai kilat dan angin kencang, Rabu, 12 Agustus 2026.
- BMKG menjelaskan, Sumsel mengalami kondisi kering karena pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).
- Dengan sifat hujan bawah normal pada periode dasarian I Agustus 2026. Kondisi kering tersebut berkaitan dengan dinamika iklim global dan regional
RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG mengingatkan, masyarakat mewaspadai potensi hujan intensitas ringan hingga lebat disertai kilat dan angin kencang, Rabu, 12 Agustus 2026. Di tengah potensi hujan tersebut, Sumatra Selatan (Sumsel) justru potensi menghadapi kondisi kekeringan.
BMKG menjelaskan, Sumsel mengalami kondisi kering karena pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD). Prakirawan BMKG, Miftah Ali menjelaskan, terdapat sejumlah daerah konvergensi dan konfluensi yang membentang di beberapa wilayah Indonesia.
"Kondisi atmosfer tersebut dapat mendorong pertumbuhan awan hujan. Di sepanjang wilayah yang dilalui pola konvergensi maupun konfluensi," kata Miftah dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara, di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Daerah konvergensi tersebut antara lain berada di wilayah:
• Pesisir barat Sumatra Utara
• Riau
• Samudra Hindia sebelah selatan
• Jawa Timur
• Laut Sawu
• Kalimantan Utara
• Sabah
• Laut Sulu
• Selat Makassar
• Sulawesi bagian tenggara hingga selatan
• Papua
• Perairan barat dan selatan Papua Selatan.
Kondisi tersebut, membuat sejumlah wilayah berpotensi mengalami pertumbuhan awan hujan. Masyarakat yang berada di daerah dengan potensi cuaca buruk diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca dari BMKG.
Untuk sejumlah kota besar, BMKG memperkirakan, hujan ringan terjadi di Medan, Padang, Tanjung Selor, Ambon, dan Jayapura. Sementara itu, sejumlah kota besar lainnya diprediksi berada dalam kondisi berawan pada Rabu.
Lalu, wilayah yang diprakirakan berawan antara lain:
• Banda Aceh
• Pekanbaru
• Tanjung Pinang
• Jambi
• Bengkulu
• Pangkal Pinang
• Serang
• Jakarta
• Bandung
• Semarang
• Surabaya
• Samarinda
• Banjarmasin
• Denpasar
• Mataram
• Kupang
• Makassar
• Mamuju
• Gorontalo
• Kendari
• Manado
• Ternate
• Manokwari
• Nabire
• Merauke.
Meski demikian, prakiraan cuaca dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer. Karena itu, masyarakat diimbau tidak hanya mengandalkan kondisi cuaca pada satu waktu, tetapi terus mengikuti pembaruan informasi resmi BMKG.
Di sisi lain, perhatian khusus diberikan kepada Sumatra Selatan yang tengah menghadapi kondisi lebih kering. BMKG Stasiun Klimatologi Sumsel mencatat, wilayah tersebut diprediksi mengalami curah hujan rendah.
"Dengan sifat hujan bawah normal pada periode dasarian I Agustus 2026. Kondisi kering tersebut berkaitan dengan dinamika iklim global dan regional," ucap BMKG.
Dalam informasi BMKG Sumsel, fenomena ENSO menunjukkan kondisi El Nino. Sementara, IOD juga dipantau sebagai salah satu faktor yang memengaruhi distribusi curah hujan di wilayah Sumatra.
El Nino dapat mengurangi pasokan uap air yang mendukung pembentukan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Sementara itu, perkembangan IOD positif juga dapat berkontribusi terhadap berkurangnya pasokan kelembapan ke wilayah Sumatra.
Dampaknya mulai dirasakan melalui periode tanpa hujan dan rendahnya curah hujan di sejumlah wilayah Sumsel. Kondisi tersebut, perlu mendapat perhatian karena dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta potensi kebakaran hutan dan lahan.
BMKG Sumsel juga mengingatkan, sebagian besar wilayah provinsi tersebut berpotensi mengalami curah hujan kategori rendah. Masyarakat diminta terus memantau informasi iklim dan cuaca karena kondisi atmosfer tetap dapat berubah dari waktu ke waktu.
Situasi tersebut menunjukkan kondisi cuaca Indonesia yang tidak seragam pada saat bersamaan. Ketika sejumlah daerah berpotensi mengalami hujan dan cuaca buruk, wilayah lain justru menghadapi ancaman kekeringan akibat berkurangnya curah hujan.
BMKG meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang berpeluang mengalami hujan lebat, petir, dan angin kencang. Ancaman turunannya dapat berupa genangan, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan perjalanan.
Masyarakat yang berada di wilayah dengan potensi petir dan angin kencang juga disarankan membatasi aktivitas di ruang terbuka ketika cuaca memburuk. Warga sebaiknya menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang kondisinya tidak kokoh ketika hujan disertai angin kencang.
BMKG juga memperingatkan, masyarakat di wilayah yang mengalami musim kemarau dan kondisi kering. Masyarakat diminta mewaspadai kondisi kekurangan air serta kebakaran hutan dan lahan perlu ditingkatkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....