BMKG: El Nino Kuat-IOD Positif Berpotensi Picu Kemarau Panjang
- 10 Agt 2026 19:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BMKG meminta masyarakat mewaspadai ancaman kemarau panjang dan lebih kering pada 2026 hingga awal 2027.
- Hal ini akibat pengaruh El Nino kuat yang berpotensi diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
- Fatuh mengatakan kombinasi El Nino kuat dan IOD positif dapat menciptakan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia.
RRI.CO.ID, Samarinda - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai ancaman kemarau panjang dan lebih kering pada 2026 hingga awal 2027. Hal ini akibat pengaruh El Nino kuat yang berpotensi diperkuat fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Prakirawan BMKG Samarinda, Fatuh Hidayatullah, mengatakan El Nino saat ini berada pada kondisi aktif dengan intensitas kuat. Hal itu ditandai dengan Indeks Nino 3,4 yang telah mencapai 1,56, sementara ambang batas kategori kuat berada di angka 1,5.
“El Nino ini telah berada pada kondisi aktif dan pada intensitas kuat dengan Indeks Nino 3,4 yang sudah mencapai angka 1,56. Di mana batas threshold untuk kategori kuat adalah 1,5,” kata Fatuh di Samarinda, Senin 10 Agustus 2026.
Menurutnya, BMKG memprediksi kondisi El Nino kuat tersebut dapat bertahan setidaknya hingga awal kuartal I 2027. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko terjadinya musim kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah.
Ancaman kemarau juga berpotensi semakin kuat apabila fenomena IOD positif terbentuk. Saat ini, IOD masih berada dalam fase netral, tetapi diprediksi berubah menjadi positif pada periode September hingga Desember 2026.
“Untuk saat ini IOD masih berada pada fase netral. Namun diprediksi berubah menjadi IOD positif pada periode September hingga Desember,” ucapnya.
Fatuh mengatakan kombinasi El Nino kuat dan IOD positif dapat menciptakan kondisi kemarau yang lebih panjang dan kering di sejumlah wilayah Indonesia. Untuk Kaltim, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus 2026.
Indikasi kondisi kering juga terlihat dari hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH), yang menunjukkan sejumlah kabupaten/kota di Kaltim telah memasuki kategori HTH menengah. Terutama di beberapa wilayah bagian selatan.
Kondisi tersebut turut diperkuat masuknya massa udara kering dari arah timur yang membawa udara relatif panas dan melintasi wilayah Kalimantan.
Meski demikian, hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dalam beberapa hari terakhir.
BMKG menegaskan kondisi tersebut tidak serta-merta menandakan bahwa ancaman kemarau telah berakhir. Menurut Fatuh, hujan yang terjadi lebih bersifat sementara akibat dinamika atmosfer.
Di antaranya pengaruh aktifnya gelombang atmosfer Rossby dan Kelvin yang membawa tambahan uap air secara temporer. Karena itu, masyarakat diminta tidak terlena dengan hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir.
Curah hujan yang masih terjadi justru perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan air. Sekaligus mengantisipasi potensi kondisi kering yang dapat berlanjut.
“Jangan sampai hujan yang turun beberapa hari ini membuat masyarakat terlena. Air hujan yang ada perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengantisipasi kondisi kering yang berpotensi berlangsung lebih panjang,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....