Kenapa MBG Tidak Boleh Dibawa Pulang? Ini Penjelasan Kepala BGN
- 12 Agt 2026 09:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Gizi Nasional (BGN) RI meminta, sekolah dan tenaga pendidik lebih aktif mengedukasi siswa mengenai aturan konsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu hal yang menjadi perhatian, kebiasaan membawa makanan MBG pulang ke rumah.
- Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, edukasi dari guru menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan program MBG. Menurutnya, makanan harus dikonsumsi sesuai ketentuan agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga
- BGN meminta dukungan pihak sekolah dan tenaga pendidik. Memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya mengonsumsi MBG sesuai ketentuan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) RI meminta sekolah dan tenaga pendidik aktif mengedukasi siswa mengenai aturan konsumsi MBG. BGN menyoroti kebiasaan membawa makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) pulang karena berpotensi mengganggu keamanan pangan.
Kepala BGN Sudaryono menyatakan edukasi guru penting untuk menjaga keamanan pangan selama pelaksanaan program MBG. Ia menilai makanan harus dikonsumsi sesuai ketentuan agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga bagi penerima manfaat.
“BGN meminta dukungan pihak sekolah dan tenaga pendidik. Memberikan pemahaman kepada peserta didik mengenai pentingnya mengonsumsi MBG sesuai ketentuan,” kata Sudaryono dalam keterangan persnya seperti dilansir Antara, di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Sudaryono mendorong guru menyampaikan langsung kepada siswa agar makanan MBG tidak dibawa pulang ke rumah. BGN tidak dapat mengawasi kondisi penyimpanan makanan setelah siswa membawa makanan tersebut keluar lingkungan sekolah.
Perubahan kondisi penyimpanan dapat memengaruhi kualitas makanan MBG setelah makanan tersebut dibawa keluar lingkungan sekolah. Makanan yang mengalami kerusakan kemudian dikonsumsi dikhawatirkan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk keracunan makanan.
“Makanan yang dibawa pulang ke rumah itu kita tidak tahu kualitasnya. Tidak tahu kerusakannya, yang bisa jadi dikhawatirkan menimbulkan keracunan bagi siswa yang mengonsumsi,” ucap Sudaryono.
BGN menyebut terdapat sejumlah kasus makanan MBG yang dibawa pulang kemudian dikonsumsi anggota keluarga siswa. Dalam beberapa kasus, BGN menemukan orang tua siswa ikut mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan tersebut.
“Bahkan, di beberapa kasus keracunan yang kami temukan. Orang tua siswa yang mengonsumsi MBG di rumah itu kemudian juga mengalami keracunan,” ujar Sudaryono.
Karena itu, BGN meminta sekolah tidak hanya berperan sebagai tempat distribusi makanan kepada siswa. Guru dan tenaga pendidik juga diharapkan memberikan pemahaman mengenai cara mengonsumsi makanan MBG secara aman.
BGN menilai keberhasilan program MBG tidak cukup hanya berdasarkan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Keamanan pangan menjadi aspek penting yang tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan program tersebut.
“Jadi, mari kita sama-sama menjaga bahwa MBG ini harus aman dan bergizi,” ujar Sudaryono.
BGN terus memperkuat pelayanan, pengawasan, pemantauan, serta koordinasi dengan berbagai pihak dalam pelaksanaan program. Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan makanan memenuhi standar gizi sekaligus aman dikonsumsi penerima manfaat.
Sekolah menjadi salah satu pihak yang memiliki peran penting dalam menjaga keamanan makanan setelah diterima siswa. Edukasi kepada siswa diharapkan mencegah makanan MBG disimpan atau dikonsumsi ketika keamanannya tidak lagi terjamin.
"Program MBG juga harus mampu memberikan jaminan keamanan bagi siswa dan penerima manfaat lainnya. Sejak makanan diterima hingga dikonsumsi," kata Sudaryono.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....