Tangani Karhutla, OMC Menunggu Kemunculan Awan Hujan

  • 10 Agt 2026 21:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah menunggu kemunculan awan hujan untuk memaksimalkan operasi modifikasi cuaca dalam penanganan karhutla.
  • Tiga hingga empat hari berpotensi memiliki awan hujan hingga 18 Agustus untuk pelaksanaan OMC.
  • Pemerintah tetap mengandalkan penanganan darat dan menyiapkan sumber air alternatif selain OMC.

RRI.CO.ID, Jakarta – Pemerintah terus meningkatkan upaya penanganan karhutla di tengah kondisi cuaca panas dan kering yang meningkatkan risiko kebakaran. Salah satunya memaksimalkan operasi modifikasi cuaca atau OMC dengan memanfaatkan kemunculan awan hujan.

Operasi tersebut dinilai efektif untuk membantu memadamkan karhutla. Namun, pelaksanaannya bergantung pada ketersediaan awan hujan.

Menkopolkam, Djamari Chaniago mengatakan, OMC tidak dapat dilakukan apabila tidak terdapat awan hujan yang bisa dimodifikasi. Karena itu, pemerintah terus memantau perubahan cuaca untuk segera melakukan OMC ketika potensi awan hujan muncul.

“Selama awan hujan itu tidak bisa ditemukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan,” ujar Djamari di Gedung Kemenkopolkam, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026. Ia mengatakan berdasarkan perkiraan cuaca, terdapat tiga hingga empat hari potensi munculnya awan hujan hingga 18 Agustus mendatang.

Pihaknya berharap kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menjalankan OMC dalam membantu penanganan karhutla. Meski demikian, Djamari menegaskan pemerintah tidak dapat hanya mengandalkan operasi udara dan tetap melakukan berbagai upaya penanganan di darat.

Sumber air alternatif juga disiapkan, termasuk penggunaan flexible tank dan pembuatan sumur di wilayah yang membutuhkan. Menurutnya, OMC memiliki keunggulan karena dapat menjatuhkan air dalam jumlah besar dari udara dan menjangkau wilayah yang luas.

“Bahkan kita juga bisa membuat sumur di daerah-daerah itu. Sumur buatan, itu harus bisa mengeluarkan air,” katanya.

Sementara itu, BNPB menegaskan operasi udara melalui waterbombing hanya menjadi upaya pendukung penanganan karhutla, terutama di kawasan gambut. Hal itu disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto.

Ia menambahkan, pemadaman karhutla di lahan gambut tetap membutuhkan operasi darat untuk memastikan api benar-benar padam. “Ketika cuaca sangat panas, tidak ada awan hujan, paling efektif adalah operasi darat, operasi udara itu hanya membantu,” ucapnya.

Menurutnya, satu helikopter waterbombing hanya mampu mengangkut sekitar empat ton air dalam sekali operasi. Karena itu, BNPB meminta pemerintah daerah tetap menyiapkan pasukan darat untuk mengantisipasi kebakaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....