Husein Mutahar Sosok di Balik Tradisi Pengibaran Bendera 17 Agustus

  • 10 Agt 2026 17:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pengibaran bendera merah putih pada 17 Agustus memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan sosok Mayor Laut Husein Mutahar.
  • Pada tahun 1946, Presiden Soekarno menugaskan Husein Mutahar untuk menyiapkan upacara kemerdekaan pertama di halaman Istana Gedung Agung, Yogyakarta.
  • Tradisi pengibaran bendera menjadi bagian penting dalam upacara peringatan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan setiap tahunnya.

RRI.CO.ID, Jakarta – Setiap 17 Agustus, pengibaran bendera menjadi bagian penting dalam upacara peringatan kemerdekaan Indonesia. Tradisi tersebut memiliki sejarah panjang yang tidak lepas dari sosok Husein Mutahar.

Pada 1946, Presiden Soekarno menugaskan Mayor Laut Husein Mutahar menyiapkan upacara kemerdekaan pertama. Upacara tersebut berlangsung di halaman Istana Gedung Agung, Yogyakarta.

Saat itu, Mutahar menggagas agar pengibaran bendera dilakukan para pemuda dari berbagai daerah Indonesia. Gagasan tersebut bertujuan menumbuhkan rasa persatuan melalui simbol pengibaran bendera.

Namun, kondisi Indonesia yang masih dalam keadaan darurat membuat gagasan tersebut belum dapat diwujudkan. Mutahar akhirnya memilih lima pemuda yang kebetulan berada di Yogyakarta.

Kelima pemuda tersebut terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Jumlah tersebut dipilih sebagai simbol lima sila dalam Pancasila.

Mereka kemudian bertugas sebagai pengibar Bendera Pusaka dalam upacara 17 Agustus 1946. Pola pengibaran tersebut terus digunakan di Yogyakarta hingga 1949.

Setelah ibu kota kembali ke Jakarta pada 1950, Mutahar tidak lagi menangani pengibaran bendera. Tugas tersebut kemudian ditangani Rumah Tangga Kepresidenan hingga 1966.

Pada 1967, Presiden Soeharto kembali memanggil Mutahar untuk menangani pengibaran Bendera Pusaka. Mutahar kemudian merancang susunan baru yang dikenal sebagai formasi 17-8-45.

Formasi tersebut terdiri dari Pasukan 17 sebagai pengiring, Pasukan 8 sebagai pembawa bendera, dan Pasukan 45 sebagai pengawal. Jumlah tersebut melambangkan tanggal Proklamasi Kemerdekaan, 17 Agustus 1945.

Gagasan Mutahar kemudian berkembang dengan melibatkan pemuda dan pemudi dari berbagai provinsi. Pada 1969, utusan daerah mulai menjadi bagian dari pasukan pengibar di tingkat nasional.

Istilah Paskibraka sendiri baru digunakan pada 1973. Istilah tersebut dicetuskan Idik Sulaeman, yang merupakan adik pandu Husein Mutahar.

Dari lima pemuda di Yogyakarta hingga Paskibraka nasional, tradisi pengibaran terus berkembang. Peran Husein Mutahar menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan tradisi tersebut. (Rahmania Ulfah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....