Kemenperin Pacu IKM Fesyen-Kriya Perluas Pasar lewat Teknologi Digital

  • 21 Agt 2026 17:23 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perindustrian memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) di sektor fesyen dan kriya.
  • Optimalisasi kanal digital berfungsi tidak hanya sebagai sarana pemasaran tetapi juga untuk membangun identitas merek, memperluas jangkauan pasar, dan memperkuat hubungan dengan konsumen.
  • Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa transformasi digital merupakan faktor penting bagi IKM untuk meningkatkan skala usaha dan akses pasar yang lebih luas.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian terus meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) fesyen dan kriya melalui pemanfaatan teknologi digital. Optimalisasi kanal digital tidak hanya untuk pemasaran, tetapi juga membangun identitas merek, memperluas pasar, dan meningkatkan hubungan konsumen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan transformasi digital menjadi faktor penting bagi IKM meningkatkan skala usaha serta memperluas akses pasar. Perkembangan perilaku konsumen juga semakin menuntut pelaku industri beradaptasi dengan berbagai platform digital.

“Pelaku IKM saat ini harus memanfaatkan berbagai kanal digital, termasuk sektor IKM fesyen dan kriya. Pelaku IKM perlu membangun identitas merek, menciptakan narasi, memahami karakter konsumen, serta menentukan strategi dan konten sesuai bisnis,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Kemenperin memberikan perhatian terhadap pengembangan industri fesyen dan kriya karena kedua sektor tersebut memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Pertumbuhan industri fesyen dan kriya nasional meningkat 2,43 persen pada 2024 menjadi 4,93 persen pada 2025.

“Potensi tersebut harus terus kita optimalkan. Pelaku IKM harus semakin adaptif, inovatif, dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai instrumen untuk memperkuat daya saing,” ujar Agus.

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Kemenperin melalui BPIFK di bawah Ditjen IKMA mengembangkan ekosistem IKM fesyen dan kriya. Salah satunya melalui Creative Talk yang merupakan rangkaian program Creative Business Incubator (CBI).

Program tersebut ditujukan untuk mengembangkan wirausaha muda sektor industri kreatif, khususnya bidang fesyen dan kriya. Creative Talk menjadi ruang bagi pelaku industri kreatif memperoleh pengetahuan mengenai pengembangan bisnis, memperluas jejaring, serta membangun kolaborasi.

“Kemenperin memberi kesempatan pelaku industri fesyen, kriya, dan kreatif lainnya untuk berkembang, memperkuat inovasi, memperluas jejaring, serta kolaborasi. Berbagai topik dibahas mendalam bersama praktisi agar pelaku usaha menentukan strategi bisnis tepat dan semakin cepat naik kelas,” ucap Agus.

Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menjelaskan pemilihan kanal digital perlu disesuaikan dengan karakter bisnis masing-masing pelaku usaha. Setiap platform memiliki karakteristik pengguna dan metode komunikasi yang berbeda.

Karena itu, pelaku IKM perlu memahami profil konsumen sebelum menentukan kanal dan strategi komunikasi yang digunakan. Pemahaman tersebut membantu pelaku usaha menyesuaikan komunikasi digital dengan karakter konsumennya.

“Dari pengalaman para pelaku usaha tersebut, kita dapat melihat pentingnya membangun identitas merek, nilai produk, serta kepercayaan pelanggan konsisten. Hal tersebut penting agar produk semakin mudah dikenali dan memiliki hubungan yang kuat dengan konsumennya,” kata Reni.

Creative Talk juga membahas strategi meningkatkan visibilitas dan penjualan melalui pemahaman terhadap Customer Journey atau perjalanan konsumen. Konsep tersebut menggambarkan tahapan interaksi konsumen mulai dari mengenal produk, mempertimbangkan pembelian, melakukan transaksi, hingga akhirnya menjadi pelanggan.

Dalam pembahasan tersebut, Reni menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan konsumen setelah transaksi. Komunikasi dengan konsumen perlu terus dibangun untuk menciptakan loyalitas.

“Menjaga hubungan dengan konsumen merupakan bagian penting dalam perjalanan tersebut. Artinya, komunikasi dengan konsumen tidak berhenti setelah transaksi dilakukan,” ucap Reni.

Kepala BPIFK Dickie Sulistya menambahkan, perubahan cepat pada kanal digital dan dinamika kondisi eksternal menuntut pelaku IKM terus menyesuaikan strategi pemasaran. Pelaku usaha juga perlu memahami sasaran dan karakter konsumen serta menjaga relasi dengan konsumen setelah penjualan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....