Waketum MUI Tekankan Pemimpin Harus Adaptif di Era Digital
- 08 Agt 2026 12:29 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemimpin dituntut untuk mampu meninggalkan karya nyata yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat dan organisasinya.
- Dalam era digital, pemimpin perlu memahami perkembangan zaman sambil tetap mempertahankan nilai dan prinsip-prinsip dasar kepemimpinannya.
- Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud menekankan bahwa kepemimpinan harus bersifat adaptif terhadap perubahan sosial dan transformasi digital untuk tetap relevan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum MUI Marsudi Syuhud menekankan pentingnya kepemimpinan yang adaptif terhadap perubahan sosial dan transformasi digital. Menurutnya, pemimpin juga harus mampu meninggalkan karya nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan organisasi.
Marsudi mengatakan tuntutan terhadap pemimpin semakin kompleks seiring perubahan teknologi dan pola komunikasi masyarakat. Karena itu, pemimpin perlu memahami perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dan prinsip yang menjadi dasar kepemimpinannya.
"Seorang pemimpin di tingkat mana pun wajib memiliki legacy atau peninggalan karya nyata. Karya yang dirasakan manfaatnya oleh umat dan organisasi," kata Marsudi saat menghadiri Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.
DIgitalisasi, kata Marsudi, tidak semestinya dipandang hanya sebagai perkembangan teknologi. Pemanfaatan teknologi perlu menjadi bagian dari tata kelola organisasi dan aktivitas dakwah agar mampu menjangkau masyarakat.
"Digitalisasi bukan sekadar tren. Tetapi melainkan instrumen penting dalam tata kelola organisasi modern dan dakwah masa kini," ujarnya.
Marsudi menilai kemampuan beradaptasi dengan teknologi juga penting untuk membangun komunikasi dengan generasi muda. Perkembangan teknologi, menurutnya, dapat menjadi sarana untuk memperkuat hubungan antara pemimpin dengan generasi yang tumbuh sebagai digital native.
Marsudi merujuk konsep Fiqhud Daulah yang memuat tiga tatanan utama dalam berorganisasi dan bernegara. Ketiganya adalah lit Ta'lif (mengonstruksikan ide), lil Jam'i (menyatukan perbedaan), dan wat Ta'awuni 'ala Asybaabil Ma'isyah (bekerja sama untuk kesejahteraan hidup).
Pada aspek lit Ta'lif, Marsudi menekankan pentingnya pemimpin menyusun gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi program kerja. Kepemimpinan, kata dia, tidak cukup hanya menghasilkan janji atau narasi tanpa diwujudkan dalam program yang memberikan dampak.
"Seorang pemimpin, baik memimpin rumah tangga, organisasi, maupun negara, harus punya legacy atau tinggalan. Hukumnya wajib. Jangan sampai tidak punya peninggalan yang bermanfaat," ucapnya.
Marsudi menilai pemimpin masa depan perlu mampu memadukan nilai-nilai yang telah menjadi fondasi organisasi dengan pemanfaatan teknologi. Pendekatan tersebut diharapkan membuat organisasi tetap relevan sekaligus mampu memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Kegiatan Silaturahmi Nasional Majelis Alumni IPNU tersebut turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam. Kemudian Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Muhammad Yusuf Chudlori, Wakil Ketua Umum PBNU Zulfa Mustofa, serta Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Masykuri Abdillah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....