PSDKP Libatkan Pemuda dalam Operasi Pengawasan Kawasan Konservasi Laut Banda
- 08 Agt 2026 02:52 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gelar Operasi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) dilaksanakan pada 5–8 Agustus 2026 di Kepulauan Banda dengan dukungan peralatan modern termasuk Speedboat Pengawas Napoleon 051.
- Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira dilibatkan dalam operasi sebagai bagian dari strategi edukasi lapangan dan pemberdayaan generasi muda dalam konservasi laut.
- Operasi pengawasan mencakup Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 714 yang meliputi Laut Banda dan wilayah sekitarnya sebagai bagian dari agenda rutin pemerintah.
RRI.CO.ID, Banda Naira – Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Kepulauan Banda terus diperkuat melalui Gelar Operasi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) yang berlangsung pada 5–8 Agustus 2026. Dalam operasi tersebut, Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira turut dilibatkan sebagai bagian dari edukasi lapangan dan penguatan peran generasi muda dalam mendukung konservasi laut.
Operasi terpadu dilaksanakan menggunakan Speedboat Pengawas Napoleon 051 milik Satuan Pengawas SDKP Seram Bagian Timur (Satwas SDKP SBT). Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin pengawasan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 714 yang meliputi Laut Banda dan wilayah sekitarnya.
Koordinator Gelar Operasi sekaligus Koordinator Satwas SDKP Seram Bagian Timur, Nardi Rumbawa, mengatakan operasi tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus penegakan hukum di sektor kelautan dan perikanan.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan rutin PSDKP dalam menjaga sumber daya kelautan dan perikanan di Laut Banda. Kami melakukan pengawasan terhadap aktivitas di WPP-NRI, kawasan pesisir, ruang laut, maupun kawasan konservasi agar seluruh pemanfaatannya sesuai dengan ketentuan. Melalui operasi ini kami juga berupaya mencegah sejak dini berbagai bentuk pelanggaran yang dapat mengancam kelestarian sumber daya kelautan," ujar Nardi.
Ia menjelaskan, selama empat hari pelaksanaan operasi, tim menargetkan pemeriksaan terhadap kapal-kapal perikanan yang beroperasi di Laut Banda. Setiap hari, sedikitnya satu kapal diperiksa untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Menurut Nardi, terdapat tujuh sasaran utama dalam operasi tahun ini, meliputi pelanggaran perizinan usaha perikanan, pengoperasian kapal perikanan berizin daerah di atas 12 mil laut, pelanggaran di kawasan konservasi, pelanggaran budidaya laut, pemanfaatan pulau-pulau kecil, pencemaran perairan, serta pelanggaran pemanfaatan ruang laut.
Operasi pengawasan turut melibatkan berbagai instansi, di antaranya Pelabuhan Perikanan Pantai Banda, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, pengelola Kawasan Konservasi Laut Banda, TNI Angkatan Laut, dan Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud). Sinergi lintas lembaga tersebut diharapkan mampu memperkuat pengawasan kawasan laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi strategis.
Laut Banda dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia. Di wilayah ini terdapat Taman Wisata Perairan (TWP) Laut Banda seluas sekitar 2.500 hektare yang ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Kawasan tersebut dikelola melalui sistem zonasi untuk melindungi ekosistem, habitat, dan keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Sementara itu, Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, menilai keterlibatan pemuda dalam operasi pengawasan menjadi pengalaman berharga untuk memahami upaya perlindungan laut secara langsung.
"Selama ini masyarakat lebih sering melihat hasil akhirnya, tetapi tidak banyak yang mengetahui proses panjang yang dilakukan oleh para petugas dalam menjaga laut Indonesia. Kesempatan ini membuka wawasan kami bahwa konservasi bukan hanya berbicara mengenai penanaman mangrove atau aksi bersih pantai, tetapi juga menyangkut pengawasan kawasan konservasi, kepatuhan hukum, perlindungan ruang laut, hingga pencegahan pencemaran. Pengalaman ini akan kami bawa sebagai materi edukasi kepada lebih banyak anak muda agar semakin peduli terhadap masa depan laut Indonesia," katanya.
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Arianti Vinton, mengatakan Banda Naira menjadi laboratorium pembelajaran yang penting bagi generasi muda Indonesia maupun diaspora.
"Laut Banda mengajarkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, komunitas, masyarakat lokal, hingga generasi muda. Melalui Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira, kami ingin menghadirkan lebih banyak pemuda yang tidak hanya memahami pentingnya konservasi dari ruang kelas, tetapi juga mengalami langsung bagaimana upaya perlindungan kawasan laut dilakukan di lapangan," ujarnya.
Melalui pelibatan generasi muda dalam operasi pengawasan tersebut, PSDKP bersama para mitra berharap kesadaran menjaga kawasan konservasi laut terus meningkat. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Laut Banda diharapkan tetap terjaga sebagai aset bahari nasional melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan kalangan pemuda.PSDKP Libatkan Pemuda dalam Operasi Pengawasan Kawasan Konservasi Laut Banda
Banda Naira, RRI.CO.ID – Pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan di Kepulauan Banda terus diperkuat melalui Gelar Operasi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) yang berlangsung pada 5–8 Agustus 2026. Dalam operasi tersebut, Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira turut dilibatkan sebagai bagian dari edukasi lapangan dan penguatan peran generasi muda dalam mendukung konservasi laut.
Operasi terpadu dilaksanakan menggunakan Speedboat Pengawas Napoleon 051 milik Satuan Pengawas SDKP Seram Bagian Timur (Satwas SDKP SBT). Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda rutin pengawasan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPP-NRI) 714 yang meliputi Laut Banda dan wilayah sekitarnya.
Koordinator Gelar Operasi sekaligus Koordinator Satwas SDKP Seram Bagian Timur, Nardi Rumbawa, mengatakan operasi tersebut bertujuan meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus penegakan hukum di sektor kelautan dan perikanan.
"Kegiatan ini merupakan bagian dari pengawasan rutin PSDKP dalam menjaga sumber daya kelautan dan perikanan di Laut Banda. Kami melakukan pengawasan terhadap aktivitas di WPP-NRI, kawasan pesisir, ruang laut, maupun kawasan konservasi agar seluruh pemanfaatannya sesuai dengan ketentuan. Melalui operasi ini kami juga berupaya mencegah sejak dini berbagai bentuk pelanggaran yang dapat mengancam kelestarian sumber daya kelautan," ujar Nardi.
Ia menjelaskan, selama empat hari pelaksanaan operasi, tim menargetkan pemeriksaan terhadap kapal-kapal perikanan yang beroperasi di Laut Banda. Setiap hari, sedikitnya satu kapal diperiksa untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.
Menurut Nardi, terdapat tujuh sasaran utama dalam operasi tahun ini, meliputi pelanggaran perizinan usaha perikanan, pengoperasian kapal perikanan berizin daerah di atas 12 mil laut, pelanggaran di kawasan konservasi, pelanggaran budidaya laut, pemanfaatan pulau-pulau kecil, pencemaran perairan, serta pelanggaran pemanfaatan ruang laut.
Operasi pengawasan turut melibatkan berbagai instansi, di antaranya Pelabuhan Perikanan Pantai Banda, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, pengelola Kawasan Konservasi Laut Banda, TNI Angkatan Laut, dan Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud). Sinergi lintas lembaga tersebut diharapkan mampu memperkuat pengawasan kawasan laut yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi strategis.
Laut Banda dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia. Di wilayah ini terdapat Taman Wisata Perairan (TWP) Laut Banda seluas sekitar 2.500 hektare yang ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Nasional. Kawasan tersebut dikelola melalui sistem zonasi untuk melindungi ekosistem, habitat, dan keanekaragaman hayati sekaligus mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Sementara itu, Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, menilai keterlibatan pemuda dalam operasi pengawasan menjadi pengalaman berharga untuk memahami upaya perlindungan laut secara langsung.
"Selama ini masyarakat lebih sering melihat hasil akhirnya, tetapi tidak banyak yang mengetahui proses panjang yang dilakukan oleh para petugas dalam menjaga laut Indonesia. Kesempatan ini membuka wawasan kami bahwa konservasi bukan hanya berbicara mengenai penanaman mangrove atau aksi bersih pantai, tetapi juga menyangkut pengawasan kawasan konservasi, kepatuhan hukum, perlindungan ruang laut, hingga pencegahan pencemaran. Pengalaman ini akan kami bawa sebagai materi edukasi kepada lebih banyak anak muda agar semakin peduli terhadap masa depan laut Indonesia," katanya.
Wakil Ketua Umum Kawan Alam Indonesia sekaligus Direktur Pengabdian Masyarakat PPI Dunia Kawasan Amerika–Eropa, Aurelia Arianti Vinton, mengatakan Banda Naira menjadi laboratorium pembelajaran yang penting bagi generasi muda Indonesia maupun diaspora.
"Laut Banda mengajarkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, aparat penegak hukum, akademisi, komunitas, masyarakat lokal, hingga generasi muda. Melalui Kolaborasi Pemuda untuk Banda Naira, kami ingin menghadirkan lebih banyak pemuda yang tidak hanya memahami pentingnya konservasi dari ruang kelas, tetapi juga mengalami langsung bagaimana upaya perlindungan kawasan laut dilakukan di lapangan," ujarnya.
Melalui pelibatan generasi muda dalam operasi pengawasan tersebut, PSDKP bersama para mitra berharap kesadaran menjaga kawasan konservasi laut terus meningkat. Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki, Laut Banda diharapkan tetap terjaga sebagai aset bahari nasional melalui sinergi pemerintah, masyarakat, dan kalangan pemuda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....