Penggunaan Air KAI Turun 22,16 Persen pada 2025. Mengapa Demikian?
- 07 Agt 2026 03:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Penggunaan air KAI sepanjang 2025 turun 22,16 persen atau setara 203,93 juta liter dibandingkan 2024.
- LRT Jabodebek memanfaatkan teknologi ATWP untuk mendaur ulang air pencucian kereta secara lebih efisien.
- KAI memperkuat pengendalian penggunaan air menghadapi tekanan iklim dan potensi kekeringan.
RRI.CO.ID, Jakarta - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat penggunaan air sebesar 716,30 megaliter sepanjang 2025 atau turun 22,16 persen. Penurunan tersebut setara 203,93 megaliter atau 203,93 juta liter dibandingkan penggunaan air selama 2024.
Efisiensi penggunaan air dilakukan melalui pengendalian konsumsi dan penerapan teknologi daur ulang pada operasional perkeretaapian. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan sumber daya air di tengah tekanan iklim.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan efisiensi air penting untuk menjaga pelayanan publik tetap berjalan optimal. “Air digunakan setiap hari untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, pekerja, kebersihan sarana, serta fasilitas operasional. Karena itu, setiap penurunan penggunaan air harus dicapai melalui pengukuran, pengendalian, dan teknologi yang tetap menjaga standar kebersihan serta kenyamanan pelayanan,” ujar Anne dalam keterangan kepada RRI.co.id , Jumat, 7 Agustus 2026.
Data KAI menunjukkan penggunaan air permukaan, air tanah, dan air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mengalami penurunan sepanjang 2025. Air tersebut dimanfaatkan untuk sanitasi, toilet, tempat wudu, kebutuhan pelanggan, pekerja, dan pencucian sarana perkeretaapian.
KAI menerapkan Automatic Train Wash Plant (ATWP) pada LRT Jabodebek untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air pencucian kereta. Sistem tersebut mengolah air bekas pencucian sehingga dapat digunakan kembali dalam siklus pencucian berikutnya.
ATWP dilengkapi water treatment system yang menyaring tanah, pasir, oli, dan gemuk sebelum air digunakan kembali. Tahap pembilasan akhir memanfaatkan demineralized water untuk menjaga kualitas kebersihan sarana sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Anne menjelaskan KAI juga melakukan pengukuran konsumsi air secara berkala di seluruh unit operasional dan entitas anak. Pemantauan tersebut bertujuan mengetahui perubahan pola penggunaan air serta menentukan langkah pengendalian yang diperlukan.
Data Food and Agriculture Organization (FAO) dalam AQUASTAT 2025 menunjukkan ketersediaan air tawar terbarukan global menurun 7 persen selama satu dekade terakhir. Sementara itu, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum melaporkan 89,97 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dasarian II Juli 2026.
Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menjelaskan pengendalian penggunaan air memberikan manfaat lingkungan dan operasional perusahaan. Pengurangan konsumsi air juga membantu menekan biaya penggunaan air serta kebutuhan energi untuk pengoperasian pompa.
“Penurunan sebesar 203,93 juta liter menunjukkan besarnya manfaat yang dapat dihasilkan melalui pengendalian pada berbagai unit. KAI akan terus memperkuat pengukuran, kedisiplinan penggunaan, dan penerapan teknologi pengolahan air agar setiap liter dimanfaatkan secara bertanggung jawab,” ujar Wisnu.
KAI akan melanjutkan evaluasi penggunaan air pada fasilitas pelayanan dan operasional di berbagai wilayah. Langkah tersebut diprioritaskan pada daerah yang menghadapi risiko kekeringan maupun tekanan terhadap ketersediaan sumber daya air.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....