BPS Catat Angka Kemiskinan Indonesia Turun Menjadi 8,07 Persen

  • 06 Agt 2026 15:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPS mencatat angka kemiskinan Indonesia turun menjadi 8,07 persen atau setara 22,93 juta jiwa
  • Garis kemiskinan nasional sebesar Rp3.091.866 dihitung berdasarkan pengeluaran rumah tangga, bukan per individu
  • Data kemiskinan diperoleh melalui survei lapangan pada Februari 2026 menggunakan metode sampling yang mewakili seluruh provinsi

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan angka kemiskinan Indonesia terbaru tercatat sebesar 8,07 persen atau 22,93 juta jiwa. Data tersebut merupakan salah satu dari tiga indikator utama yang baru dirilis bersama pertumbuhan ekonomi dan tingkat pengangguran.

Amalia menjelaskan garis kemiskinan nasional saat ini sebesar Rp3.091.866 per rumah tangga setiap bulan. Menurutnya, garis kemiskinan harus dipahami berdasarkan rumah tangga, bukan dihitung untuk setiap individu.

“Jadi saya juga ingin menyampaikan bahwa garis kemiskinan itu harus dibaca per rumah tangga, jangan dibaca per individu. Karena memang pengeluaran di rumah tangga itu dilakukan biasanya sebagian ada pengeluaran bersama-sama dalam satu rumah tangga,” katanya kepada RRI PRO3 di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Ia mengatakan pengeluaran rumah tangga mencakup kebutuhan bersama seperti listrik, air, beras, dan minyak goreng. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak lagi menafsirkan garis kemiskinan sebagai ukuran pengeluaran per kapita.

Amalia mengungkapkan tingkat kemiskinan tertinggi saat ini berada di Papua Tengah sebesar 30,41 persen. Sementara Papua Pegunungan mencatat tingkat kemiskinan sebesar 26,3 persen, sedangkan Bali menjadi provinsi dengan tingkat kemiskinan terendah sebesar 3,44 persen.

Menurutnya, persentase kemiskinan turun dari 8,25 persen pada periode sebelumnya menjadi 8,07 persen. Penurunan tersebut membuat jumlah penduduk miskin berkurang dari 23,36 juta menjadi 22,93 juta jiwa.

Ia menyebut jumlah penduduk miskin yang berkurang mencapai sekitar 430 ribu orang atau hampir setengah juta jiwa. Menurutnya, angka tersebut perlu dipahami dengan mempertimbangkan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sekitar 285 juta jiwa.

Amalia menegaskan data kemiskinan diperoleh melalui survei lapangan yang dilaksanakan pada Februari 2026. Survei tersebut menggunakan metode sampling di seluruh provinsi dengan pendekatan statistik sehingga hasilnya mewakili kondisi populasi nasional.

“Ini survei di lapangan itu dilakukan pada bulan Februari 2026, sampling, tetapi lokasinya di semua provinsi. Namanya sampling ya pasti dengan metodologi statistik itu pasti bisa mewakili populasi,” kata Amalia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....