Pemerintah Percepat Pembangunan Jargas untuk Kurangi Ketergantungan LPG Impor

  • 05 Agt 2026 14:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mempercepat pembangunan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga (Jargas) sebagai strategi mengurangi ketergantungan impor LPG dan memperkuat kemandirian energi nasional.
  • Kebutuhan LPG nasional mencapai lima juta metrik ton per tahun, namun produksi dalam negeri hanya sekitar 1,4 juta metrik ton, menunjukkan kesenjangan signifikan antara permintaan dan pasokan.
  • Langkah percepatan Jargas merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketahanan energi nasional dan mengurangi tekanan pada impor energi fosil.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mempercepat pembangunan Jaringan Gas Bumi untuk Rumah Tangga (Jargas) guna mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG. Langkah tersebut sekaligus memperkuat kemandirian serta ketahanan energi nasional.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari mengatakan, kebutuhan LPG nasional mencapai lima juta metrik ton setiap tahun. Namun, produksi dalam negeri hanya sekitar 1,4 juta metrik ton.

"Artinya yang bisa dipenuhi hanya sekitar 30 persen kurang. Karena itu sisanya diimpor," kata Qodari dalam konferensi pers Program Prioritas Nasional di Kantor Bakom RI, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.

Indonesia, kata Qodari, justru memiliki cadangan gas bumi yang jauh lebih besar dibandingkan LPG. Sekitar 70 hingga 75 persen potensi gas nasional merupakan gas bumi berupa metana dan etana.

"LPG itu materinya berbeda dengan Jargas, karena Jargas menggunakan gas bumi. Gas bumi ini adalah metana dan etana, sementara LPG adalah propana dan butana," ujarnya.

Qodari menjelaskan pemerintah mendorong pemanfaatan gas bumi domestik melalui jaringan pipa langsung ke rumah tangga. Sistem tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan distribusi LPG menggunakan tabung.

"Jargas merupakan langkah strategis pemerintah untuk membuat pasokan energi Indonesia lebih mandiri dan stabil," ucapnya. Ia mengatakan pembangunan Jargas juga bertujuan menekan beban subsidi energi nasional.

Selain itu, program tersebut diharapkan memperluas pemanfaatan energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan Jargas, kata dia, mampu mengurangi distribusi tabung LPG ke masyarakat.

Kondisi tersebut berdampak pada penurunan konsumsi bahan bakar kendaraan pengangkut serta emisi dari rantai logistik. Menurutnya, pembangunan Jargas juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional.

Qodari optimistis Jargas dapat mendorong kebutuhan tenaga kerja, industri manufaktur, jasa konstruksi, hingga penguatan industri gas nasional. "Pemerintah terus memperluas program Jargas sebagai bagian dari diversifikasi energi dan pengurangan ketergantungan terhadap LPG impor," kata Qodari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....